Kamis, 29 Januari 2015

HP Pintar; Manusia Bodoh

video
Kalo beberapa waktu yang lalu ada yang tanya, kenapa sekarang WA-nya gak aktif, HP-nya kemana?
Aku cuma menjawab, "Aku jual, aku jadi autis karena pake HP itu"
Mungkin ini karena faktor aku-nya aja sih, tapi monggo bisa ambil hikmah dari video yang aku share ini. Semoga bermanfaat.......

Rabu, 28 Januari 2015

Before-After

Semoga ini bagian dari keberkahan dakwah, aamiin.... InsyaAllah........

Foto 2012 adalah foto saat kami berada di UKKI dan SKI, sama-sama menjadi mas'ul. Cuma bedanya Akh Asep jadi mas'ul UKKI, dan saya menjadi mas'ul Al-Ishlah.
Saat beban amanah dakwah itu kian menumpuk di pundak kami, ternyata Allah memberikan banyak keberkahan kepada kami. Maka do'a kami adalah, "Semoga ini bagian dari keberkahan dakwah, aamiin.... InsyaAllah......."

Belum sempat tak buat tulisannya, jadi ini dulu aja deh.. ^^

Sabtu, 24 Januari 2015

Post Power Syndrome

Penyakitnya aktivis senior salah satunya adalah post power syndrome.
Katanya gitu...

Dalam penjelasan secara teori post power syndrome adalah suatu keadaan yang terjadi akibat seseorang hidup dalam kebesaran bayang-bayang masa lalunya (bisa berupa jabatan, karier, kecerdasan, kepemimpinan, atau hal lainnya), dan belum dapat menerima realita yang ada saat ini.

Post power syndrome bisa terjadi dalam berbagai motif. Bisa terjadi dalam motif kepedulian sehingga mengharuskan dirinya sendiri untuk senantiasa ada di samping penerusnya. Kemudian kekhawatiran berlebih kepada penerusnya yang membuat dia terus memberikan intervensi yang terbalut manis dengan sebuah kertas kado bernama "masukan". Tapi inti dari semua kertas kado ini adalah "eksistensi kekuasaan" yang kemudian kita sering kenal dengan nama post power syndrome.

Padahal kepedulian dan rasa kekhawatiran tak selamanya mengharuskan kita terus-menerus ada di sampingnya. Seperti seorang anak kecil yang baru saja belajar berjalan. Kadang dia harus terjatuh untuk dapat berjalan hingga dia bisa berlari. Tapi sebagai orang tua kita tak harus terus-menerus menuntunnya, memegangi tangannya. Pada fase-fase awal terutama saat sang anak sudah mulai aktif dan duduk meski terduyun-duyun karena lehernya belum kuat memikul kepalanya yang besar. Sang anak mulai bisa kita ajak dia untuk berdiri, mengajaknya jalan-jalan. Tapi saat sang anak mulai bisa duduk tegak tak lagi terduyun-duyun, inilah saat kita mulai mempercayakannya untuk dapat berdiri sendiri dengan kakinya yang mungil. Memotivasinya, memberikan senyuman yang pada akhirnya kita akan melihat sang anak mulai bisa berjalan meski dengan langkah yang masih sempoyongan. Tiba-tiba terjatuh dan tersenyum manis. Seperti sedang mengatakan, "mamah terima kasih sudah biarkan adik berdiri dan berjalan dengan kaki adik. Nanti giliran adik yang akan menuntun mamah dengan kaki adik yang sudah kuat ini."

Memang berat melepaskan penerus kita berjalan sendirian. Mengarungi samudra penuh gelombang, yang tak jarang akan terjadi badai. Namun inilah saat dimana kita harus percaya kepada penerus kita. Kita dampingi dia dengan doa, motivasi, dan senyum manis. Tak perlu terus-menerus menuntunnya, memegangi tangannya. Meski kadang kita harus turut merasakan sakit saat melihatnya terjatuh. Tapi inilah fase belajar itu. Ingatlah pesan Allah, "Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain". (QS Al-Insyirah: 7). Ada ladang lain yang harus kita tanami dengan benih-benih kebaikan. Sudah saatnya kita memberikan kepercayaan kepada penerus kita. Dan kalian para penerus kami, cukuplah kami menjadi sejarah untuk diambil hikmahnya. Bukan mengharapkannya kembali terulang sehingga kalian tidak belajar. Selamat bekerja adik-adikku. Jika kau tak temukan kami memotivasimu, masih ada Allah yang selalu hidup dan tak pernah lalai terhadapmu. Bersandarlah kepada-Nya saat kau lelah, lalu segeralah bangkit melanjutkan pelayaranmu.

Tentang Analogi Memikul Beban


Membuat daftar tunggu itu seperti sedang mengatur setiap jeda agar tak hanya menguap. Berlalu begitu saja jarum jam yang beputar. Namun begitu hati hadir dalam setiap pengamatan. Maka jarum jam yang berputar tidak hanya terlihat berputar-putar tiga ratus enam puluh derajat tanpa henti secara fisik. Kita akan memahami bahwa ada detik-detik yang hilang pada setiap langkahan jarum jam. Kita akan mulai sibuk berfikir. Betapa bodohnya membiarkan diri ini terjebak dalam jeda waktu yang berlalu. Membiarkan kisah hanya menjadi masa lalu yang patut dilupakan.
Kadang aku berfikir hidup ini seperti kita sedang bermain catur. Sebenarnya kita hanya akan memainkan dua buah jenis warna bidak hitam atau putih. Masing-masing warna bidak memiliki bentuk, nama, dan fungsi bidak yang berbeda. Jumlah yang telah disesuaikan dan cara kerja yang juga sudah disesuaikan. Kita hanya butuh sebuah strategi agar kita bisa mengalahkan lawan dari bidak kita, skakmat. Itulah sebuah daftar tunggu. Sebuah perencanaan yang tidak sekedar daftar mimpi yang kelak akan usang dan menguap. Benar-benar sukses untuk menjadi mimpi tapi tak ada realisasi.
Maka tak heran jika sering kita menemukan seseorang merasa beban yang dia pikul begitu berat. Menghilang, melarikan diri seperti hantu. Dia ada tapi tak bisa kita temukan. Padahal setiap beban telah diukur. Apalagi kita sudah membuat daftar tunggu. Sehingga kita dapat membuat strategi untuk memikul beban itu. Lagi pula pundak kita tidak menjadi satu-satunya pundak. Pun ada Allah yang bisa menjadi sandaran saat kita lelah. Adukan saja pada-Nya biar pundak kita dikuatkan, lutut dikokohkan, dan hati dimantapkan. Apalagi ada banyak benih muda yang sudah hadir di hadapan kita. Sudah seharusnya kita malu. Sepatutnya juga kita seperti menjadi sebuah buku berjalan. Yang akan dijadikan referensi oleh mereka para benih muda. Kita juga seharusnya malu pada semut. Badannya yang kecil tak membuat dia patah arang untuk mengais rizki yang Allah hamparkan. Dia masih mampu memikul beban yang beratnya lima puluh kali lipat dari berat badannya. Maka untuk apa lagi Allah abadikan namanya dalam surat cinta-Nya jika bukan sebagai pelajaran bagi manusia?

Kamis, 15 Januari 2015

Quote: Hujan-Pelangi

Pelangi memang tak selalu muncul di langit setelah hujan, tapi dengan hujan cahaya matahari akan terbiaskan menjadi spektrum warna pelangi. Indah!

#Lagi-lagi tentang Hujan dan Pelangi


Rabu, 14 Januari 2015

Tak Pantas

tak pantas manusia macam kita berlagak tanpa dosa
kenyataan mata memandang penuh kekurangan
ada sebagian lagi yang menatap penuh amarah
mereka tidak terima kita seperti malaikat
kita sama-sama tahu
ada celah yang kadang luput dari mata
pantaskah manusia macam kita berlagak?
aku kira hanya dia yang boleh berlagak
tapi kenyataan dia tetap pada kezuhudannya
memandang dunia tak lebih dari sekedar ladang pengumpul bekal akhirat


Kutipan dalam percakapan singkat
Pojok Surau | 14 Januari 2015 | 20.35

Menemani Hati-Hati yang Lelah

Ada banyak hati yang sedang lelah. Sehingga menit-menit berlalu begitu saja. Hanya terdengar suara tetes-tetes air hujan di balik jendela, yang sesekali berjeda kata dari mulut-mulut yang lelah. Mereka seperti zombi. Hidup namun banyak kesuraman yang terpancar dari mata-mata yang mewakili hati. Aku mengerti dan aku hanya bisa menulis saat kondisi itu terjadi. Sembari berdoa, ada malaikat yang datang memecah kesuraman. Dan, jam sudah menunjukkan waktu Isya. Sepertinya doa terkabul, hati perlu kembali diistirahatkan. Menjemput panggilannya yang telah berlalu tiga sampai lima menit yang lalu.

Menemani hati-hati yang kelelahan,
Pojok Surau, 13 Januari 2015 | Pukul 19.00 WIB

Senin, 12 Januari 2015

Tanggung Jawab dan Cinta

Pernah mendengar dua istilah ini? Ambil pusing dan tidak ambil pusing. Sebenarnya dua istilah ini hanya dibedakan oleh dua kata. Yang dengan dua kata itu akan menjadikan keduanya menjadi beda makna. Entah siapa yang pertama kali menggunakan dua istilah ini. Tapi akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan dua istilah ini.
Ada yang harus aku jelaskan dari dua istilah yang telah tega membuatku sibuk. Secara subjektif, kedua istilah ini akan aku jelaskan dengan sudut pandang positif dan negatif saja. Dalam arti keduanya akan aku kaitkan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang.
Pertama yang akan aku jelaskan adalah tidak ambil pusing. Seperti pada penjelasan sebelumnya, hal ini berkaitan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang. Ada orang-orang di sekeliling kita yang memiliki tipe ini. Tidak mau ambil pusing. Orang pada tipe ini memiliki kecendrungan menyepelekan. Ini berbeda dengan berfikir sederhana. Orang yang berfikir sederhana adalah orang yang memiliki pemikiran efisien dan memiliki kecendrungan solutif. Tapi orang yang memiliki kecendrungan menyepelekan, dia lebih cendrung menganggap semua enteng, tidak solutif, dan terlalu menggantungkan semuanya pada orang lain. Benar kita adalah makhluk yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bukan berarti semua kita gantungkan kepada orang lain. Menganggap setiap orang akan dapat memaklumi semua sikap kita yang cedrung menyepelekan itu. Orang semacam ini sangat jelas tidak memiliki rasa tanggung jawab. Dan rasa cinta kepada tanggung jawabnya harus dipertanyakan. Bagaimana mungkin seorang yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta, sangat abai dan menyepelekan.
Istilah yang kedua adalah ambil pusing. Istilah ini berkebalikan dengan istilah pertama yang telah aku jelaskan. Orang yang ada pada tipe ini memang bukan hanya memiliki cara berfikir sederhana. Dia memiliki rasa tanggung jawab dan juga cinta. Saat seseorang pada tipe ini diberikan sebuah tanggung jawab, dia akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Tidak terpengaruh dengan kondisi sekelilingnya yang entah membantunya atau justru membiarkannya bekerja sendiri. Ada beberapa orang di sekeliling kita yang saat menerima bantuan justru membuatnya menjadi malas. Meski ada juga yang justru semakin bersemangat saat melihat ada banyak kepedulian. Begitu juga ada yang saat dia bekerja sendiri dan tak ada satupun yang peduli terhadapnya, dia akan menjadi bersemangat. Dia ingin menunjukkan bahwa dia tetap mampu bekerja walau hanya sendiri. Tapi ini adalah emosi yang entah berlandas cinta atau amarah. Dan saat itu ada orang yang saat dia sendiri malah menjadi tak bersemangat. Merasa kesepian hingga akhirnya dia mati. Posisi inilah yang disebut posisi netral.
Kondisi ini akan sangat dipengaruhi oleh hati yang memiliki rasa tanggung jawab dan cinta. Keduanya adalah sumber energi bagi kaki dan tangannya untuk begerak. Tidak mudah mengabaikan seberapa kecil monster yang ada di hadapannya. Tapi juga tidak terlalu merasa ketakutan saat menghadapi monster besar yang sedang dihadapinya. Cinta yang memiliki sumber yang benar akan menghasilkan energi yang besar. Sumber yang benar itu adalah Tuhan yang manciptakan rasa cinta itu. Mungkin cukup hati kita yang mengalah, merasakan rasa sakit. Sehingga tidak akan banyak hati yang dikecewakan dan disakiti. Lagipula beban di pundak sudah diukur oleh Tuhan pemilik seluruh rasa cinta.

Jumat, 09 Januari 2015

Menunggu Jawaban

Menunggu jawaban itu seperti mengharap-harap munculnya pelangi setelah hujan. Tak ada kepastian.Pun hujan yang datang hari ini tidak seperti biasanya. Dia cukup deras. Namun hujan yang deras itu datang tiba-tiba. Seperti mengerti tentang gersangnya bumi. Sehingga pelangi yang diharap-harap belum pasti kemunculannya. Mungkin pelangi sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban juga seperti menatap langit di kala malam mulai menyelimut. Mengharap bulan dan bintang menari-nari di langit. Beradu terang tak mau mengalah. Malam yang gelap menjadi cerah. Tapi itu juga belum pasti. Kadang awan gelap menutup begitu saja pentas tari. Seolah mengatakan pertunjukan telah usai. Atau malam ini pertunjukan tengah libur. Mungkin langit sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban memang membosankan. Apalagi harus menunggu tiga hari kedepan. Terbesit rasa ketidakpastian. Tapi ada harap begitu besar tertanam. Ada cinta yang harus diperjuangkan. Bagiku ini pengorbanan. Karena saat itu akan ada harapan yang patah. Entah itu harapanku atau harapan orang lain. Biarlah langit menentukan jawabannya.

Rabu, 07 Januari 2015

Masa Lalu

Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Masa lalu seperti halnya sejarah. Dia pasti akan berulang dan akan kembali menampakkan wajahnya dalam kisah, sosok, dan setting yang berbeda. Namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Karena memang itulah salah satu mengapa sejarah itu ada, sebagai wahana pembelajaran. Kita tidak bisa meninggalkan begitu saja masa lalu. Tapi seperti kita sedang mengendarai sebuah kendaraan. Kita tak harus terus menerus melihat kaca sepion untuk melaju ke depan. Nanti kita malah nabrak lalu terjatuh. Kita cukup fokus melaju ke depan. Saat akan merubah arah, barulah kita melihat kaca sepion. Bila perlu kita bisa melihat ke belakang.
Masa lalu adalah sejarah yang di dalamnya akan ada sosok. Sosok yang sama akan muncul di waktu yang akan datang. Meski dengan kapasitas yang tentu tak bisa kita bandingkan. Ada hal yang harus kita ingat tentang hal ini. Bahwa setiap masa memiliki sosoknya. Dan setiap sosok memiliki caranya dalam menuliskan kisahnya. Kapasitaslah yang kemudian akan menentukan seberapa hebat sejarah akan terukir. Kita tak bisa membandingkan sehingga kita hanya akan menyakiti hati. Hati para sosok pengukir sejarah.
Kita hanya perlu belajar dari masa lalu saat menemui kegaduhan. Melihat kaca sepion saat akan merubah arah kendaraan. Bukankah keberadaan sejarah harusnya menjadikan manusia semakin bijak? Tidak bersikap seperti anak kecil. Menghayal, mengharapkan masa lalu akan kembali terjadi. Meski sejarah pasti akan berulang dan akan kembali menampakkan wajahnya. Tapi ingatlah sejarah akan tampil dalam kisah, sosok, dan setting yang berbeda. Kita hanya perlu bijak dengan masa lalu.

Selasa, 06 Januari 2015

Memiliki Harapan


Memiliki harapan itu seperti kita sedang menunggu-nunggu tumbuhnya tunas pohon. Saat itu bisa saja tunas itu mati, patah dimakan oleh ayam yang kelaparan. Kita hanya perlu pandai-pandai menjaganya. Agar tunas itu tumbuh dan menghasilkan dahan-dahan yang baru. Dari dahan-dahan itu akan tumbuh buah-buahan yang manis. Kita dapat memakan buah itu sepuasnya. Kita juga dapat membaginya dengan orang lain. Membagi kebahagiaan.
Memiliki harapan juga harus memahami, bahwa tak semua harapan itu akan terpenuhi. Kita harus siap saat harapan itu patah. Apa kita siap jika semua harapan itu terpenuhi? Dan apakah kita siap melihat banyak harapan orang lain yang patah karena kita?
Pikirkan baik-baik tentang hal ini. Saat harapan kita terpenuhi, di saat yang sama akan ada harapan orang lain yang patah. Kita hanya perlu bijaksana dalam melihat setiap harapan kita. Karena kita tidak hidup sendiri. Ada kehidupan lain yang juga memiliki harapan.