Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2022

Mengapa Engkau masih mendengar bisikku?


Aku yang penuh dengan maksiat

Aku yang tak bisa menjaga mataku

Melihat kesana kemari jelalatan

Mencari keindahan yang dilarang Mu

Mengapa Engkau masih mendengar bisikku?

 

Bukankah aku penuh maksiat?

Bangun pagi kesiangan

Subuh aku aduk bersama dhuha

Setelah salam aku jempalitan

Khusukku aku ragu

Mengapa Engkau masih mendengar bisikku?

 

Betapa murah Rahmatmu padaku

Pada hambamu yang lalim pada dirinya

Melupakan nikmat Mu

Yang Engkau saja tak lupa padaku

Mengapa Engkau masih mendengar bisikku?

 

Apa yang harus aku lakukan?

Bersyukur aku saja tak bisa

Hanya saja setiap aku bermaksiat

Engkau seperti memanggil hatiku

 

Hai kamu!!

Berhentilah dengan gelimang dosamu

Berhenti!!

 

Disaat itu, aku ingin berhenti

Aku kemudian berbisik dalam tengadah tanganku

Ampuni aku

Tolonglah aku menjauhi maksiat hidupku

Tak ingin aku mati sedang diri masih berlumur dosa

Ampuni aku

 

Kemudian... Nafas terengah

Aku hampir tiada

Lalu aku mati 

Minggu, 05 April 2015

Memperbaiki Indonesia

Jika ditanyakan kepadamu sebuah pertanyaan , "Apa masalah mendasar yang terjadi di Indonesia?" Maka apa jawaban yang akan kamu berikan?

Teringat dengan Abdur jebolan stand up comedy salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Di awal stand upnya dia bercerita bahwa Indonesia ini bagaikan kapal tua yang sudah tujuh kali berganti nahkoda. Tapi ternyata kapal tua yang bernama Indonesia ini belum juga dapat berlayar dengan stabil. Seperti ada yang salah dengan kapal tua yang sedang mencoba mengarungi samudra ini.

Pertanyaan pembuka di atas adalah sebuah pertanyaan yang Maz Aza (Ketua KAMMI Wilayah DIY) tanyakan kepada seluruh peserta dalam salah satu diskusi Daurah Marhalah 3 (DM3) Jogja (Program kerja kaderisasi KAMMI Wilayah DIY). Banyak jawaban yang dilontarkan oleh peserta DM3 Jogja. Mulai dari masalah politik, hukum, ekonomi, kepemimpinan, sampai masalah pendidikan. Saat itu menurut penulis semua jawaban yang peserta berikan dalam diskusi itu benar, tapi hanya saja penulis merasa ada sesuatu yang seharusnya menjadi benar-benar dasar dari permasalahan itu. Seperti halnya sebuah sungai yang mengalir sampai ke muara. Pasti ada hulu dari sungai itu tempat suatu sungai bermula, dan tempat sumber-sumber airnya berlokasi. Permasalahan yang terjadi di Indonesia pasti ada hulunya. Hulu permasalahan yang menyebabkan kapal tua Indonesia ini belum bisa berlayar dengan stabil.

Setelah merenungi hulu persoalan itu, akhirnya penulis menyimpulkan sebuah jawaban yaitu kemiskinan. Kemiskinan yang dimaksud yaitu kemiskinan iman dan kemiskinan material. Maksudnya adalah berkaitan dengan kebodohan dalam hal beragama dan dunia. Dua masalah ini memiliki hubungan konotasi yang sangat erat. Misalnya pertama, adalah Bangsa Qurasy yang disebut sebagai orang jahiliyah, bukan karena mereka bodoh dalam hal ekonomi, tapi karena bodoh dalam hal beragama. Allah berfirman, "Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS Quraisy: 1-4). Kejahiliyahan Bangsa Qurasy juga digambarkan oleh Ja'far bin Abi Tholib dihadapan raja Najasyi: "Wahai raja, ketika kami masih hidup di jaman jahiliyah, kami menyembah patung, senantiasa makan bangkai, senang pada barang keji, kami putuskan tali kekeluargaan dan hubungan baik dengan tetangga dan kami selalu memusuhi orang lemah".

Kedua, diantara sebab kemiskinan material adalah kebodohan dalam beragama. Sebagaimana firman Allah, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al-A'raf: 96). Sebagai contohnya adalah bencana narkoba yang melanda Indonesia. Meski memang bencana ini menyerang banyak kalangan tapi pemuda sebagai aset utama bangsa ini adalah korban utamanya. Pendidikan agama yang lemah menyebabkan pemuda negeri ini amat rawan terserang bencana narkoba. Belum lagi permasalahan sex bebas yang korbannya mulai dari pejabat sampai anak-anak sekolah dasar. Masyarakat justru lebih sibuk dalam perdebatan ritual-ritual keagamaan yang kadang menimbulkan gesekan horizontal. Negara yang mayoritas muslim ini, justru menjadikan agama tak lebih sebagai komoditas untuk melegitimasi kekuasaan. Alih-alih menjual revolusi mental yang terjadi ternyata sebaliknya. Negara ini belum lama telah memblokir situs-situs Islam yang dianggap mengajarkan radikalisme. Padahal sekali lagi justru masalahnya adalah karena kebodohan dalam beragama yang menyebabkan semua masalah ini terjadi, bencana narkoba, sex bebas, hingga radikalisme. Masalah korupsi yang menyerang para pejabat negeri ini juga tak kalah mengerikan. Orientasi materi dengan melupakan orientasi akhirat benar-benar telah menggelapkan hati para pejabat. Mereka tak takut lagi dengan Tuhannya yang senantiasa mengawasi. Maka wajar jika banyak aset negara yang justru dijual kepada asing. Kebdodohan yang melanda Negara Indonesia menyebabkan begitu mudahnya kekayaan negara diserahkan kepada orang lain. Miskinlah negara yang kaya ini!

Maka pertanyaannya pun berlanjut. Bagaimana cara mengatasi permasalah yang ada di Indonesia?

Berkaca dari dakwah Rasulullah Muhammad Saw, mulai dari fase sirriyatud dakwah sampai fase jahriyatud dakwah. Dakwah pertama yang beliau lakukan pertama kali adalah dakwah aqidah; memperbaiki kejahiliyahan yang melanda Bangsa Qurasy. Allah berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS Al-Anbiya: 25). Selain masalah tauhid, kejahiliyahan yang Ja'far bin Abi Tholib gambarkan amat jelas bagaimana buruknya akhlak Bangsa Qurasy. Maka Rasulullah pun bersabda, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Dan Allah juga berfirman, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab: 21).

Pokok dari perbaikan itu terletak pada perbaikan aqidah masyarakatnya. Masyarakat beserta pemimpinnya harus kembali kepada agamanya sebagai pembimbing hidupnya. Agama yang akan membimbingnya dalam mengarungi samudera yang penuh dengan gelombang dan badai yang siap menerjang. Agama ini pula yang akan memperbaiki akhlak pemimpin dan rakyat Indonesia. Seperti yang Rasulullah lakukan kepada masyarakat arab yang jahiliyah dan terbelakang, menjadi masyarakat yang lebih beradab. Sehingga terciptalah sebuah negeri madani yang menjadi sumber peradaban baru dunia. Peradaban yang muncul di tengah-tengah dua imperium besar, Persia dan Romawi yang kelak akan ditaklukkan oleh peradaban Islam.


Lalu dengan kondisi yang sudah amat tertinggal akankah Bangsa Indonesia mampu menjadi masyarakat madani?

Pertama-tama penulis jelaskan apa yang dimaksud dengan Masyarakat Madani. Menurut Nurcholis Madjid, masyarakat madani adalah masyarakat yang merujuk pada masyarakat Islam yang pernah dibangun Nabi Muhammad Saw di Madinah. Masyarakat kota atau masyarakat berperadaban dengan ciri antara lain egaliteran (kesederajatan), menghargai prestasi, keterbukaan, toleransi dan musyawarah. Lebih lanjut, Anwar Ibrahim (mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia) menjelaskan, bahwa masyarakat madani merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Inisiatif dari individu dan masyarakat akan berupa pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintah yang berdasarkan undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu.

Maka tidak ada cara lain untuk memperbaiki Indonesia agar mampu menjadi masyarakat madani adalah dengan mengikuti petunjuk yang Allah dan RasulNya contohkan. Merujuk kembali kepada dasar dari syari'at yang terdapat dalam Agama. Syari'at yang telah membimbing peradaban Islam – Negara Madani di tanah Arab – menemui kejayaannya. Sebagaimana yang Imam Malik sampaikan, bahwa "Umat Islam tidak akan kembali mencapai kejayaannya sebelum mereka kembali melakukan apa yang umat terdahulu lakukan. Yaitu kembali kepada Al-Qur'an dan Sunah". Artinya mau tidak mau jika Indonesia ingin serius memperbaiki Negara, maka mau tidak mau Indonesia harus menjadikan agama sebagai dasar pijakan dalam setiap aspek kehidupan individu maupun sosial.

Merujuk kepada dasar Negara Republik Indonesia, yaitu Pancasila. Pasal pertama dengan jelas menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Aapalagi di dalam Preambul UUD 1945 alenia ketiga dengan amat jelas menyebutkan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…” Yang artinya, bahwa negara ini tidak bisa dilepaskan dari konsep ketuhanan. Keberadaan agama untuk membimbing berlayarnya kapal yang bernama Indonesia ini menjadi sebuah keniscayaan. Terutama adalah bidang pendidikan sebagai tools yang akan menciptakan pemimpin-pemimpin muda, aset utama bangsa ini. Pendidikan inilah yang akan membentuk nalar intelektualitas dan moralitas dari pemuda-pemuda yang akan mengisi pos-pos strategis di negara ini. Pemuda-pemuda segar dengan intelektualitas dan moralitas serta kecintaannya terhadap agama dan negaranya. Maka bukan tidak mungkin kapal yang bernama Indonesia ini akan dapat berlayar dengan gagahnya, mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan gelombang yang menerjang-nerjang. Karena memiliki awak kapal yang cerdas dan bermoral sehingga mampu bersaing dengan kepala yang telah tegak dan hati yang lurus penuh ketundukan kepada Allah Swt.

Kamis, 13 November 2014

Dalam Jeda

Setiap manusia adalah koma dan akan menjadi titik saat kematian datang. Koma adalah sebuah jeda. Perjalanan kita pun hanya sebuah jeda sebelum menjadi sebuah titik. Dalam jeda kita akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Akankah kita menjadi tanda seru saat melihat kalimat-kalimat dusta. Atau kita hanya akan menjadi sebuah tanda tanya. Pura-pura bodoh tak mengerti.

Jeda adalah perjalanan panjang. Bukan titik bukan akhir. Ada kehidupan setelah jeda yang harus diperjuangkan. Atau hanya akan sia-sia saat jeda menjadi titik. Perjalanan jeda adalah kata. Yang tersusun dari banyak huruf. Akan menjadi kata yang indah saat kita mengerti makna sebuah pesan dalam jeda. Pesan dari penguasa jeda dan titik.

Dalam jeda detik tetap berputar. Meski dalam jeda kita duduk santai atau dalam jeda kita berlari kencang. Itu adalah pilihan. Tapi bagi manusia yang mengerti makna jeda. Dia akan menjadikan setiap detik dalam jeda adalah pahala. Tak menyia-nyiakan detik dalam jeda. Bersantai-santai seolah takkan pernah bertemu titik. Karena kalimat indah tetap harus berakhir dengan sebuah titik.

#Ra

Senin, 10 November 2014

Tentang Kecemburuan

Tak semua cemburu itu berkonotasi negatif
Tak adil bagimu untuk mendefinisikan cemburu adalah negatif
Sedang bagi mereka cemburu adalah sebuah alasan
Seperti rasa cemburu Aisyah kepada Khadijah
Wanita agung yang sangat setia mendampingi Rasulullah di awal perjuangan risalah Islam ini
Atau kisah kecemburuan Umar kepada Abu Bakar
Saat harta yang diperjuangkannya untuk Islam menjadi tak sebanding jika disandingkan dengan apa yang diinfaqkan Abu Bakar
Atau kisah cemburu sahabat yang mencemburui seorang pemuda yang namanya dijanjikan oleh Rasulullah sebagai ahli surga karena amalannya
Sampai-sampai Mu'adz bin Jabbal merasa penasaran dan menginap beberapa malam di rumah pemuda itu
Untuk sekedar mencari tahu amalan sepesial apa yang menjadikannya seorang ahli surga
Cemburu tak selalu berstigma negatif
Bagi mereka cemburu adalah alasan untuk mendongkrak amalan
Cemburu adalah pemicu yang mendorong kebaikan
Tak ada salahnya cemburu
Jika cemburu pada akhirnya membuat waktu mereka semakin produktif dengan kebaikan
Jika cemburu itu membuat malam-malam mereka sibuk dengan dzikir untuk semakin dekat dengan-Nya
Menjadikan sepertiga malamnya untuk berduaan saja dengan Allah mencurahkan rasa cintanya kepada-Nya
Bagi mereka kecemburuan adalah energi untuk terus bergerak melahap habis amalan-amalan, sehingga menjadi alasan bagi Allah bahwa mereka pantas untuk berada di surga-Nya
Bahkan Allah-pun cemburu kepada mereka yang mengaku beriman tapi tidak patuh terhadap perintah dan larangan Allah
Seperti yang Bukhari dan Muslim sampaikan dalam hadisnya
"Sesungguhnya Allah-pun cemburu dan orang yang beriman juga cemburu.
Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa yang diharamkan"


#Ra

Sabtu, 08 November 2014

Read It Where Ever You Are

Tak ada lelah yang tak terobati. Lelahnya jasad karena berawal dari lelahnya jiwa. Biar pundak tak memikul sendiri bebannya. Masih ada jiwa yang selalu bersemangat...
Kapanpun, dimanapun, selalu...



Read It Where Ever You Are!
Al-Qur'an...

Selasa, 04 November 2014

Tetaplah Bergembira

Ada dalam kaidah fiqih berbunyi "Al amru idza dhoqat tasaa’ wa idzat tasaa…… Urusan itu kalau menyempit dia meluas, kalau meluas dia menyempit"
Itulah sebabnya ketika seluruh pasukan Khandaq sedang mengepung Madinah dan Rasulullah hanya mendapatkan sisa waktu 6 hari untuk bergerak membangun parit dengan lebar 6 m dan dalamnya 3 meter dan harus menutupi setengah kota madinah di tengah musim dingin. Dan yang mereka hadapi 10.000 pasukan koalisi.
Begitu tegangnya -begitu sempitnya- situasi ini sampai-sampai Allah menurunkan satu surat khusus dalam Al-Quran, surat Al-Ahzab. Coba perhatikan al quran melukiskan situasinya dalam bentuk lukisan fisik… (QS Al-Ahzab:10-11).
Wa idz zaa ghotil abshar (dan ingatlah tatkala mata kalian membelalak), wabalaghotil qulubul hanajir (dan jantung kalian sudah sampai tenggorokan), wa tadzunnuna billahidzdzununaa (dan kalian mulai menduga-duga yang buruk terhadap Allah), hunaalikab tuliyal mu’minun (ditempat itulah, di waktu itulah orang-orang mu’min diuji), wazulzilu zilzalan syadida (dan mereka digoncang segoncang-goncangnya).
Sangat jelas bagaimana sempitnya kondisi kaum muslimin saat itu.
Tahukah bagimana kondisi Rasulullah dan para sahabat saat itu? Dimanakah Rasulullah menjanjikan pembebasan Romawi itu? Dan kapan situasinya Rasulullah menjanjikan pembebasan Romawi itu? Justru ketika mereka semuanya sedang terkepung. Latuftahannar ruum…!!
Janji kemenangan itu hadir di saat kondisi sedang sangat sempit. Latuftahannar ruum…!!
Yang akan memenangkan pertempuran ini bukanlah siapa yang "mengalahkan" lebih banyak, tapi siapa yang bisa bertahan hidup lebih lama.

Senin, 27 Oktober 2014

Manusia dan Beban di Pundaknya #2

Manusia dan beban di pundaknya. Menggambarkan bahwa setiap manusia pasti memiliki beban hidup. Manusia tidak akan lepas begitu saja dari ujian, sebagaimana Allah wahyukan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur'an. "Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS Al-Mulk: 2). Atau dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 35 Allah berfirman, "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan" (QS Al-Anbiya': 35).
Ujian yang Allah berikan kepada manusia pada hakikatnya telah tertulis di dalam Lauh Mahfuz bahkan sebelum dia terlahir di dunia ini. Keberadaan ujian ini semata-mata agar jelas siapa hamba-hamba Allah yang munafik dan siapa hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman. Pemahaman seperti ini tentu didapat saat manusia menggunakan akalnya untuk berfikir. Tidak hanya mengeluh bahkan menyalahkan Allah atas ujian yang didapatnya. Sehingga ujian yang akan dipikul oleh pundak tak jadi persoalan karena dia mampu berfikir dengan baik. Akalnya membimbingnya dengan cahaya, sehingga dia mampu menemukan cahaya dari jalan gelap yang dia lalui di sepanjang perjalanan.
Ruh atau jiwa. Mengutip yang disampaikan oleh Ibn Sina, "Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar, merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani, yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin kembali."
Ibn Sina memberikan gambaran yang sangat terang tentang jiwa manusia. Hakikatnya ruh yang ada dalam jasad manusia ini sedang tak berada di alamnya yaitu alam ruh. Jiwa akan menangis manakala dia merasa ridu dengan alamnya. Seperti halnya Rasulullah dan para sahabat yang merasa rindu dengan kota kelahirannya Mekah saat hijrah ke Madinah. Itulah ruh atau jiwa. Dia membutuhkan satu obat yang akan memberikannya hidup dan tidak merasa asing saat berada dalam jasad manusia. Dia adalah Al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS Al-Isra': 82).
Al-Qur'an adalah obat bagi jiwa-jiwa yang beriman. Saat ruh merasakan kerinduan kepada kampung akhirat maka Al-Qur'an akan dapat memberinya ketenangan, sebagaimana Allah telah memberikan keterangan dalam ayat Al-Qur'an di atas.
Beban atau ujian yang diemban oleh manusia pada dasarnya tidak hanya dipikul secara fisik oleh jasad ini. Seperti halnya akal yang telah terang oleh cahaya ilmu, maka ruh yang telah diterangi oleh cahaya Al-Qur'an akan mampu memberikan kekuatan kepada ruh. "Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram." (QS Ar-Ra'd: 28). Ibnul Qayyim dalam Tafsir Al-Qayyim menyebutkan bahwa "Pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat Al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan Al-Qur'an." Ketentraman atas mengingat Allah inilah yang akan memberikan energi kepada manusia. Sehingga dia tidak menjadi manusia yang mudah mengeluh atas beban yang dia dapatkan dalam perjalanan hidupnya. Jauh dari Al-Qur'an hanya akan membuat manusia seperti mayat hidup. Jasadnya hidup tapi ruhnya mati karena hati yang jauh dari Al-Qur'an, yang seharusnya menjadi obat penawar bagi ruh yang rindu dengan kampung akhirat.
Jiwa-jiwa yang senantiasa berdzikir, mengingat Allah, niscahya hatinya akan terang-benderang. Hatinya akan dipenuhi energi ruhani yang semakin menguatkan keimanannya. Allah akan merengkuh hati-hati yang senantiasa mengingat Allah. Pada akhirnya pundak akan kokoh, kaki akan tegak, dan hati akan penuh dengan rahmat. Dzikir Al-Qur'an ini adalah suplemen pokok dari ruh. Tak hanya itu, tapi aktivitas mengingat Allah yang lain juga akan memberikan energi kepadanya. Manusia akan senantiasa tenang tidak mengalami kerancuan dalam aktivitasnya, karena hatinya mendapatkan bimbingan dari Allah.
Kembali kepada pembahasan di awal, bahwa manusia adalah manusia. Dia terdiri dari tiga pilar penopang yang menjadikannya manusia, yaitu akal, ruh atau jiwa, dan jasad. Maka dua pembahasan mengenai akal dan ruh telah diuraikan. Semoga mampu memberikan cahaya ilmu bagi para manusia yang bertebaran di bumi Allah ini dan hendak kembali keharibaan Allah. Pada catatan ini, tak banyak yang aku sampaikan karena atas keterbatasan ilmu. Aku mohon ampun kepada Allah jika banyak kekurangan dalam penulisannya dan semoga Allah mengampuniku. Tak lupa juga aku memohon maaf kepada para pembaca atas kekurangan ini.
Mengenai jasad, sebenarnya aku meyakini bahwa telah banyak kita memahami betapa kesehatan jasad akan sangat penting dalam menjalankan aktivitas di bumi ini. Dalam kesempatan tulisan "Manusia dan Beban di Pundaknya" akan aku tulis dalam part 3. Semoga Allah memberikan kekuatan agar mampu melanjutkannya di tulisan selanjutnya.

Minggu, 26 Oktober 2014

Manusia dan Beban di Pundaknya #1

Manusia adalah makhluk yang tumbuh. Manusia memiliki tiga pilar yang menopang dan menjadikannya sebagai manusia yang hidup. Ketika manusia tumbuh, ketiganya juga mengalami proses tumbuh itu. Ketiganyalah yang kemudian menjadikan manusia memiliki kapasitas yang kemudian keberadaannya akan sangat diperhitungkan. Kapastias inilah yang akan menjaga eksistensinya sebagai manusia dalam menjalankan aktivitasnya sebagai manusia di bumi. Menjadi hamba Allah dan melaksanakan tatanan kehidupan sesuai dengan petunjuk yang ada dalam aturan yang Allah wahyukan kepada hambaNya yang mulia, Nabi Muhammad Saw.
Manusia adalah manusia dengan segala macam potensi dan kekurangannya. Tiga pilar pembentuknya itulah yang kemudian akan membantunya menjalani aktivitasnya sebagai manusia. Memikul beban dengan pundaknya tapi karena dia adalah manusia yang memiliki tiga pilar pembentuknya, maka dia akan bertindak layaknya manusia; bekerja dengan cara-cara manusia. Tidak seperti superman yang memikul bebannya sendiri. Karena kita bukanlah superman dan kita hanyalah seorang manusia biasa, maka kita akan memikul beban itu layaknya manusia. Tiga pilar penopang manusia itu adalah akal, ruh, dan jasad yang semoga dengan rahmat Allah, aku dapat memberikan gambaran ketiganya dalam menopang manusia.
Akal adalah nikmat besar yang Allah titipkan kepada manusia. Nikmat yang disebut hadiah ini menunjukkan kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Oleh karenanya dalam banyak ayat Allah memberikan spirit kepada manusia untuk menggunakan akalnya. Misalnya dalam Al-Qur'an surat Ar-Ra'ad ayat 4 ini, "Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir." (QS Ar-Ra'd: 4). Manusia yang berfikir dia mengetahui potensi dan kelemahannya sekaligus. Keberadaan akal akan membantu manusia berfikir. Sehingga dia mampu bertindak dengan nalar-nalar kemanusiaannya dan tidak menjadikannya bersikap berlebih-lebihan, yang pada akhirnya justru membuatnya kepayahan.
Manusia yang cendrung mengabaikan akal pada akhirnya dia akan menjadi jumud. Akalnya bebal dan hal ini adalah sesuatu yang tidak Allah sukai. "Dan mereka berkata: 'Kalaulah kami dahulu mendengar dan memahami (sebagai orang yang mencari kebenaran), tentulah kami tidak termasuk dalam kalangan ahli neraka'." (QS Al-Mulk: 10). Sangat keras peringatan Allah ini dalam Al-Qur'an. Akal manusia inilah yang kemudian menjadikannya bertumbuh. Manusia akan berfikir bagaimana dia bertahan dari berbagai ujian yang Allah berikan kepadanya. Tak menganggap ujian ini remeh tapi juga tak menjadikannya terlampau berat. Karena dia dapat berfikir untuk mengenali dan peka bahwa ujian ini hakikatnya adalah hal lumrah yang akan dia temui. Dia juga akan dapat berfikir jernih tentang keberadaan Allah yang memberinya ujian agar dia menjadi seutuhnya manusia. Dan beban itu pasti akan selalu mampu dipikul oleh pundak, karena ujian itu adalah pemberian dari Allah. Kejernihan berfikir ini tentunya karena dia menggunakan akalnya. Membekalinya dengan ilmu yang akan membimbingnya dalam memikul beban di atas pundaknya.

Rabu, 17 September 2014

Becik Ketitik Olo Ketoro

Becik ketitik olo ketoro
Menata hati itu penting ternyata. Banyak yang di pandang mata, terdengar oleh telinga, dan terbaca oleh bibir ini, membuat hati mengeras. Ketidaksepakatan pada satu hal, membuncahkan hati, memunculkan banyak amarah pada kata yang terucap dan kata yang tertulis, menjadi suara minor yang tidak elitis. Sesekali bahkan terlihat menjijikan dan memuakan. Bisa dibaca juga kata-kata yang tertulis pada tulisan ini. Mungkin ada kata-kata yang tak elitis itu. Aku meminta maaf atas hal itu.
Elitis, hanya sebuah istilah yang aku gunakan pada opiniku ini. Menterjemahkan ide dalam sebuah kalimat yang mendidik dan menunjukkan sisi hormat kedapa siapapun pembaca atau yang mendengarkannya. Elitis ini yang aku maksud, terlepas makna sebenarnya dalam KBBI atau kamus semacamnya. Hanya saja aku sedang sedikit mengoreksi diriku pribadi.
Becik ketitik olo ketoro. Adalah kata elegan yang bagiku cukup untuk melunakkan hati yang mengeras atas pembelaan dan cacian membabibuta yang bisa kita simak di banyak medsos. Baik yang pada dasarnya menggunakan kata-kata yang elitis sampai yang menggunakan kata sindiran menyakitkan dan hinaan tanpa pandang bulu. Tanpa kita hina pun, sesungguhnya keburukan itu akan muncul dengan sendirinya, bahkan sampai diumbar begitu saja. Tapi lihatlah, banyak yang tak menyadari, bahkan dianataranya menutup mata. Pun tanpa kita bela habis-habisan, sebenarnya yang baik pasti akan nampak. Meski jika kata beberapa orang yang bertukar pendapat denganku mengatakan, ini adalah zaman dimana citra bisa naik dan turun karena uang. Bisa jadi.
Hati. Dia tidak akan pernah menipu. Dia selalu berkata jujur pada diri ini. Hanya, mungkin mata hati telah tertutup karena bebal yang diakibatkan oleh ujubnya hati. Tak berkahnya ikhtiar manusiawi yang dilakukan. Sehingga Allah membiarkannya dalam ketersesatannya di dunia. Memberikan banyak waktu, bukan untuk menjadikan manusia itu menyadari ketersesatannya, justru waktu itu adalah untuk semakin menenggelamkannya dalam hutan belantara yang gelap dan buas. Seperti yang baru saja aku renungi dari QS Ali Imran: 178 "...Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan."
Bencilah sekedarnya saja, barangkali suatu saat dia menjadi sahabatmu. Dan Cintalah sekedarnya saja, barangkali suatu saat dia menjadi musuhmu. Sangat bijak dan arif aku rasa kata-kata mutiara engkau Sahabat Ali bin Abi Thalib. Tapi satu hal penting bahwa seorang pemimpin adalah pelayan umat. Dia tidak sekedar bercibara untung rugi soal materi. Tapi keadilan, kesejahteraan, kehidupan, dan yang paling utama adalah urusan akhirat. Semoga para arif mampu menerka pesan dari banyak pesan yang tersirat dalam pementasan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Tentu hanya hati yang penuh cinta, rahmat, dan rahim yang mampu menterjemahkannya dan mengintalnya dalam aktivitas hidupnya. Dialah hatinya para ahli ilmu, yang senantiasa menjaga adab terhadap Tuhannya ilmu. Dialah para murabitu, yang hatinya senantiasa terjaga untuk menjaga kehormatan jalan hidup ini.

Sabtu, 13 September 2014

Hanya Permukaan

Ada banyak hal tersembunyi di luar sana. belum dapat aku mengupasnya karena terbatasnya ilmu yang aku miliki. Nampaknya ini karena ilmu belum menjadi barang yang berharga bagiku, mungkin juga bagimu. Hanya kata-kata manis tanpa ada tradisi yang membangun. Aku hanya bisa menangkap objek yang tersurat saja. Terbatas..!!
Banyak hal menarik dan aneh di luar sana yang tak dapat aku mengerti. Mata hanya akan melihat permukaan air yang tenang tapi takkan pernah mengerti apa yang terjadi di kedalaman. Begitu banyak tekanan dan gelombang yang tak bisa dilihat di permukaan. Juga batu dan ikan yang saling berpadu. Tersembunyi..!!
Ada banyak tabir yang Allah selimutkan pada mata ini atas keompongan hati dan akal ini. Hanya mengerti sebuah botol air mineral hanya digunakan untuk air minum, tak mengerti, dia bisa kita manfaatkan untuk menjadi pot. Berkebun di sekitar rumah. Bisa juga aku menanaminya bunga cantik yang menyejukkan. Pandang mata memang selalu terbatas. Hanya melihat permukaan air bukan isi yang ada di kedalaman. Tak mengerti..!!?

Hanya sebuah coretan sederhana...

Kamis, 04 September 2014

Para Pengelana

Panjang perjalanan yang aku tempuh. Sesaat waktu aku temukan diriku terbaring lesu, berkeringat tampak lelah dengan wajah pucat pasi. Mungkin aku saat itu sedang kurang baik, merasa kesepian dalam perjalanan panjang ini. Aku di saat itu hanya bisa mengeluh ini dan itu, seperti tak ada tempat bersandar. Hingga pada sesaat waktu berikutnya aku menemukan sandaran yang kokoh, tidak rapuh seperti yang sebelumnya. Dalam sandaran itu, aku bisa mengadu, menangis puas, berdua saja dengannya tempatku bersanadar. Sandaran itu adalah Tuhannya para pengelana.
Para pengelana, dialah aku, kamu, dan kita. Tentunya banyak yang tak menyadarinya, bahwa kita adalah para pengelana. Bahwa jalan panjang ini sebenarnya sangatlah singkat yang tak akan terasa nikmatnya hingga para pengelana terlena. Hanya saja waktu di dunia ini terlalu menggoda. Pada saat nanti, waktu akan menjadi sangat tak bersahabat. Bangun di pagi hari, tiba-tiba waktu sudah petang. Tiba-tiba, tubuh telah renta, tua, dan rapuh. Tak sempat menulis mimpi di atas batu dan tak sempat mengatakan cinta kepada Tuhannya, kepada nabiNya, kepada kedua orang tuanya, dan kepada para makhlukNya.
Pengelana, aku adalah pengelana itu. Berjalan, menempuh jarak yang teramat panjang, berharap suatu waktu aku temukan teman seperjalanan. Seseorang yang sedang menuju tujuan yang sama. Yang pada suatu waktu melaluinya, Allah ingatkan aku tentang perjalanan panjnag yang aku tempuh. Tentang tujuan dari perjalanan panjang ini, dan mengapa aku harus melangkahkan kaki ini di jalan panjang ini. Dan pada suatu waktu nanti, kita bisa bersandar di tempat yang sama, mengadu tentang terseoknya kaki ini tadi. Berharap nanti para pengelana yang bersua di tengah perjalanan ini, dapat berkumpul lagi di persinggahan abadi, yang diharap-harap saat menempuh jalan panjang nan terjal ini. Akulah para pengelana.

Sabtu, 12 Juli 2014

Biarlah Prosa-prosa Tuhan yang Menghiasi Hati

prosa-prosa itu telah hilang dari hati
saudah tak ada bekas sedikitpun disini
yang ada adalah kata demi kata yang tak ada makna
kau tahu kenapa?
karena tak sedikitpun ada cinta lagi yang tersisa untukmu
aku telah menghabiskannya untuk Allah
jadi kini aku mati rasa
aku mati rasa jika hanya sekedar mencintai ciptaanNya
aku mati rasa jika hanya sekedar merindu ciptaanNya
biarlah hati ini hidup dan tersiram sejuknya embun cayhaya iman
yang dulu jasad ini subuk dengan urusan dunia
ruh yang melayang karena haus tanpa iman
biarlah prosa-prosa ilahi yang mengisi relung hati
agar hati ini dipenuhi iman
agar cinta ini kembali pada fitrahnya
pada kemimanan, ketundukan pada penciptaku
yang Dia sungguh menggenggam jiwa dan jasad ini

Rabu, 20 Maret 2013

Özil: "Cristiano Ronaldo senang jika mendengar saya membaca Al-Quran"


Mesut Özil : "Cristiano Ronaldo senang jika mendengar saya membaca Al-Quran. Ia selalu ingin diajarkan oleh saya untuk membaca Al-Quran. Ia kini sudah hafal beberapa huruf Hijaiyah dan Surat kegemarannya adalah Al-Fatihah."

Sumber: FB

Selasa, 12 Maret 2013

Sedikit tentang Dahsyatnya Tarbiyah


Berbicara tarbiyah itu, tidak hanya sedang berbicara mengenai peningkatan tsaqofah islamiyah, tetapi lebih dari itu. Kita sedang berbicara sesuatu hal yang sangat dahsyat.


Bagaimana tidak?

Kita bisa mengenal Abu Bakar, mengapa beliau ditakuti oleh iblis?
Kata iblis, saat Abu Bakar belum masuk Islam saja, beliau tidak pernah mau menuruti kemauan Iblis. Apalagi saat masuk Islam, potensinya ini diarahkan kepada jalan yang lebih mulia. Dia menebus dua budak yang lemah secara derajat, namun menjadi kuat saat masuk Islam, tentu dengan potensi yang dahsyat. Sebut saja Bilal bin Rabbah dan Amir bin Fuhairah.

Begitu juga dengan Bilal bin Rabbah, saat masuk Islam. Sayidina yang dibebaskan oleh sayidina ini menjadi orang yang adzannya sangat dinantikan oleh Rasulullah dan para sabhabat. Suara adzannya yang sangat merdu. Dan dia menjadi muadzin kesayangan Rasulullah. Subhanallah...


Dengan ditarbiyah, potensi seseorang justru semakin dahsyat dan semakin mulia. Allah, telah mengajarkan melalui RasulNya. Bagaimana mendidik manusia untuk memunculkan potensi-potensi dahsyatnya.

Tentunya, kita tak melupakan sahabat yang lainnya. Bisa kita ingat, Umar bin Khatab. Kegarangannya, menjadi salah satu karakteriasik dari dakwah terang-teranganIslam di masa itu. Orang yang muncul menjadi kekuatan Islam. Dan kita ingat, bagaiaman perkembangan Islam di masa kepemimpinan beliau menjadi khalifah kedua. Subhanllah....

Selasa, 26 Februari 2013

Pesan Langit untuk Manusia Visioner

Pesan implisit Allah sampaikan dalam Qur'an surat Al hasyr ayat 18, tentang fokus perbaikan kita untuk turut memperhatikan masa depan.

"wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Hasyr: 18)

Surat ini secara implisit memberikan pesan kepada orang-orang yan beriman, agar tidak hanya memikirkan perbaikan untuk hari ini saja. Tetapi lebih jauh, bahwa masa depan harus diperhatikan agar kita menjadi manusia yang visioner. Tidak hanya sibuk merekonstruksi diri untuk hari ini atau besok saja. Pesan ini adalah sebuah rujukan bagi manusia visioner untuk merekonstruksi dirinya yang berjangka panjang dan penuh perhitungan.

Satu manusia visioner yang takkan pernah ada tandingannya adalah Muhammad Saw, seorang Rasulullah yang jangkauan misinya sangat panjang. Prediksinya tentang penaklukan-penaklukan negeri-negeri besar sangatlah akurat. Neeri-negeri Syam, Konstantinopel (Turki), dan kita nantikan Roma. Adalah sebuah bukti sejarah yang tak terbantahkan.

Senin, 14 Januari 2013

Islam adalah...



Islam adalah agama para rasul dan nabi seluruhnya, mulai dari Nabi Adam hingga  risalah Nabu Muhammad Saw yang menjadi pamungkas risalah-risalah Allah . kita bisa melihatnya dalam beberaa firman Allah Swt.

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwariskanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu, Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS Asy-Syuura: 13).

Islam maknanya adalah berserah diri kepada Allah dalam perintah, larangan, dan beritaNya melalui whyu. Maka siapa yang menyerahkan diri, hati, dan anggota tubuhnya kepada Allah dalam segala perkara berarti dia seorang muslim. “Katakanlah sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Allam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikia itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al-An’am: 162-163).