Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manusia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Februari 2016

Tere Liye: Orang yang Keberatan dengan LGBT tidak sedang Diskriminasi

Homo, lesbi, banci, itu semua adalah gangguan kejiwaan, penyakit, dan bisa ditularkan oleh gaya hidup. Silahkan rujuk buku2 text book, silahkan tanyakan ke psikiater, psikolog, dokter2. Jangan mau dibodohi propaganda bahwa itu takdir Tuhan, sudah begitu sejak bayi, dll.

Siapapun yang mau mendukung homo, lesbi, banci, maka pastikan kalian mendukung mereka agar segera sembuh, diobati, melawan gangguan jiwa tersebut. Bukan agar tambah parah penyakitnya, malah dipromosikan, dipropagandakan. Karena jika itu yang kalian lakukan, kalian sesungguhnya tidak paham apa yang sedang kalian dukung. Malah menjerumuskan mereka.

Ingat baik-baik, ketika orang lain keberatan dengan homo, lesbi, banci, maka bukan berarti orang lain itu sedang diskriminasi. Tidak, dek. Tapi pertanyaan besarnya adalah: kalian mau sembuh? Atau kalian mau bebas-bebasan dengan penyakit tersebut, merasa tidak berdosa, terserah mau ngapain?

Tere Liye
(19/2/2016)


Postingan beliau di Facebook yang telah dihapus. Tapi itu hak Facebook, tidak masalah. Kita hanya perlu mengabarkan kepada orang lain lebih sering dari biasanya.

Kamis, 14 Januari 2016

Membaca Perjalanan Kita


Tak ada waktu untuk berbalik arah untuk menyesal dan merajut ulang
semua sudah berada pada jalurnya
seperti halnya jalur kereta api
dia searah tapi tidak pernah saling berpapasan
hanya searah
maka untuk apa kita mencari perbedaan dianatara kita
jika kita bisa jauh lebih banyak mencari kesamaan di antara kita?
Kadang kewaspadaan begitu mudahnya digoyahkan dengan sebuah fakta
meski fakta tidak selalu sebuah kebenaran
maka benarlah potongan hadis ini
"Istafti qolbak"
mintalah fatwa pada hatimu
hati yang hidup tentu tidak akan pernah berbohong
fitrahnya selalu dalam genggaman Sang Penguasa Jagad
maka mintalah petunjuk kepada Yang telah Membuatkan peta untuk kita
mata akan terhalang oleh dinding
akal akan terhalang oleh terbatasnya ilmu
namun hati yang hidup, dia akan dibimbing oleh Sang Penguasa Jagad

Rabu, 05 Agustus 2015

Antara Pagi dan Senja


Ada seseorang yang berkata kepada ku tentang senja. Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan tentang senja sebagai tanda protes. "Mengapa banyak orang menyukai senja? Padahal senja adalah awal dari gelap, sedangkan pagi adalah awal dari bangkitnya mentari." Katanya.

Bagi ku pagi adalah waktu dimana mentari bangkit. Tapi pagi, ia tidak pernah menawarkan kebaikan. Ia hanya memberikan pilihan, hendak jadi baik atau burukkah harinya, itu adalah pilihan. Sehingga dengan senja yang datang setelahnya, seseorang dapat berenung diri. Jadi baik atau burukkah harinya.

Sedangkan senja adalah saat dimana seseorang dapat merasakan keheningan; sepi yang membekas. Saat yang tepat bagi seseorang untuk berenung diri akan tindak dan tanduknya selama mentari bangkit hingga tenggelam. Itulah senja. Sehingga saat pagi menjelang, seseorang dapat menyambut mentari dengan senyum dan doa yang terpanjat. Agar harinya kali ini tak seburuk kemarin.

Rabu, 24 Juni 2015

Jawaban Mu tidak dalam Mimpi

Akhirnya Engkau jawab pertanyaan ku malam itu. Pertanyaan yang aku sampaikan dengan berlumuran air mata. Sesak dada rasanya. Ada perasaan yang begitu menghimpit karena saat itu aku terlambat melibatkan Mu dalam perkara ini. Atau justru seharusnya aku libatkan Engkau dalam setiap urusan ku. Dan aku, aku sungguh lalai. Aku sunggh merasakan teguran Mu malam itu. Seperti Engkau sedang menampar ku, menarik ku ke dalam tempat sujud untuk membicarakan banyak hal. Mengevaluasi setiap keputusan yang aku lalai untuk melibatkan Mu.

Oh Allah, teguran Mu malam itu membuat hati berkecamuk dan dada begitu terasa sempit. Aku menangis sejadi-jadinya.

Padahal Engkau tak pernah lalai kepada ku. Benar saja, Engkau langsung jawab pertanyaan malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Mu menjawab pertanyaan seorang hamba yang lalai seperti ku. Tidak dalam mimpi dan memang tidak harus di dalam mimpi. Engkau langsung hadirkan jawaban dari pertanyaan ku malam itu di hadapan mata ku. Seketika, Engkau timpakan sebuah "beban" di pundak yang lemah ini. Yang bahkan seorang Umar bin Khatab pun merasa berat memikulnya. Lalu bagaimana dengan hamba Mu yang satu ini, wahai Allah? Siapalah aku ini?

Tentu aku tetap meyakini bahwa ini adalah bagian dari rencana indah Mu. Aku juga meyakini bahwa tak ada beban tanpa pundak yang sanggup memikulnya. Engkau tentu tidak akan membiarkan pundak seorang hamba memikul beban yang tak sanggup ia pikul. Engkau lah Maha adil dan bijaksana. Engkau hanya ingin hamba Mu kembali kepada Mu dalam keadaan mulia. Dan ujian adalah salah satu cara untuk memuliakan hamba Mu. Allah, tentu Engkau tahu tentang hati yang bergetar takut kepada Mu ini. Kuatkanlah Allah, sehingga aku mampu untuk memantaskan diri.

Minggu, 21 Juni 2015

Kisah Senja ini di Bulan Ramadhan


Hari ini, di senja pada bulan Ramadhan, tibalah sebuah kereta api di sebuah stasiun bernama Stasiun Pemberhentian. Seperti sudah sunatullah, saat itu ada penumpang yang turun, juga ada penumpang yang naik. Kereta api akan melanjutkan perjalanannya menuju ke stasiun pemberhentian selanjutnya. Melakukan perjalanan yang panjang dengan membawa perbekalan yang ada. Ada harapan kita akan menjumpai sebuah rel kereta yang melalui jalur-jalur perbukitan. Naik turun hingga saat kita sampai di sebuah tempat yang indah. Terlihat sebuah pemandangan sawah dan ladang. Petani sibuk menyiangi sawah dan ladang. Burung-burung bangau sedang mencari nafkah. Ada yang mendapatkan santapan lezat senja itu. Perjalanan saat itu membuat hati lebih sejuk, mulut memuji namaNya atas keindahan ciptaanNya.


Sayangnya tidak semua perjalanan akan terasa sedemikian indah. Kita meyakini ada kalanya kita akan menjumpai terowongan panjang nan gelap. Ada cahaya dan itu hanya ada di ujung terowongan. "Kita harus mencapainya," ucap ku. Lebih penting dari itu adalah sebuah pilihan sikap. Kita akan menjadi manusia yang bersyukur atau kufur. Menjadi manusia yang yakin atau ingkar. Hal ini juga sebuah sunatullah. Kita hanya dihadapkan pada sebuah pilihan sikap dan kita harus bertanggung jawab dengan pilihan sikap tersebut.

Kereta api ini tidak pernah menjanjikan sebuah perjalanan yang menyenangkan, kereta api ini hanya menjanjikan sebuah perjalanan, hanya itu. Sekali lagi, hanya menjanjikan sebuah perjalanan. Kita yang akan membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan, biasa-biasa saja, atau perjalanan yang tidak hanya menyenangkan tapi juga kenangan. Perjalanan itu akan menjadi kenangan jika hanya ada hati yang hadir disana. Ada cinta yang menyertai perjalanan itu. Bukan hanya berbicara tentang sebuah beban, lelah, atau kewajiban. Sekali lagi tentang perjalanan cinta. Perjalanan yang menghadirkan cinta. Tentu cinta itu lahir dari buah ketulusan bukan keterpaksaan. Sehingga kita mampu menikmati buah dari ketaatan kita kepada Allah yang Maha mengetahui.

Aku amat yakin, rencanaNya jauh lebih indah daripada rencana dalam proposal hidup yang telah aku ajukan kepadaNya.

Benar perjalanan ini berat, benar perjalanan ini sakit, tapi ingat ada saat dimana kita jumpai perjalanan indah. Dan itu hanya akan dapat dirasakan jika hati ini memiliki cinta dan cinta itu sekali lagi adalah buah dari ketulusan. Mari kita melakukan perjalanan ini dengan hati riang?

Jumat, 19 Juni 2015

The Most Excellent



"...sesungguhnya Engkau Maha kuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha tahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha mengetahui perkara yang gaib".

Kira-kira itulah cuplikan dialog ku malam ini dengan Allah. Ada pekara yang sangat emosional, mampir di pelataran. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, ini seperti aku ingin mengatakan tidak, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut ku. Dia kaku, beku.

"Siapa aku ini? Hingga lancang tidak melibatkan Allah dalam urusan yang sedang aku hadapi". Ada sebesit marah. Hati dan akal yang tadinya tenang, tiba-tiba badai menghempas. Bergoyanglah akal dan hati kesana kemari, gelisah. "Pantas saja — ku pikir". Aku tidak melibatkan Allah dalam urusan ini. "Siapa aku ini yang lancang tidak melibatkan Allah?" Langkah-langkah kecil akhirnya ku buat malam ini, untuk mendiskusikan beberapa hal denganNya.

Tibalah akhirnya aku duduk bersimpuh, membicarakan proposal yang telah aku adukan kepadaNya beberapa hari yang lalu. Aku sampaikan kepadaNya. "Wahai Allah, aku telah menyampaikan proposal hidup ku kepada Mu. Tentu tanpa itu pun — aku yakin — Engkau sudah merencanakan hal-hal indah untuk ku. Tapi ini adalah upaya ku untuk berdiskusi; berikhtiar; berdoa, seperti yang Engkau perintahkan kepada hamba Mu. Engkaulah yang berhak mengACC atau tidak proposal ku. Engkau Maha kuasa sedangkan aku tidak. Engkau Maha tahu sedangkan aku tidak, dan Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib. Aku? Engkau tahu jika urusan ini tidak sepintasan mimpipun singgah di malam-malam lelap ku. Tidak ada poin dalam proposal hidup ku tentang urusan ini. Tapi tiba-tiba dia hendak bertamu dalam teras hidup ku. Ada rasa keterpaksaan — saat ini — untuk melukisnya dalam kanfas hidup ku. Apakah ini adalah ujian keimanan dari Mu, Wahai Allah? Sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk ku, agama ku, dan kehidupan ku, serta (lebih baik pula) akibatnya (di dunia dan akhirat), maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagi ku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini. Namun, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk ku, agama ku, dan kehidupan ku, serta (lebih buruk pula) akibatnya (di dunia dan akhirat), maka jauhkanlah urusan ini dari ku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untuk ku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya".

Kini tinggallah rasa ikhlas atas segala keputusan. Aku yakin, Allah punya rencana yang lebih indah untuk ku. Seindah apa pun aku merencanakan perjalanan hidup ku, rencana Allah tentu jauh lebih indah. Tidak ada tandingannya. God's plan is the most excellent (bahasa Inggrisnya bener gak yah? ^_^ ).

Minggu, 14 Juni 2015

Nutrisi untuk Hati

Foto by Kakak
dishare juga di akun Instagram dan Tumblr pribadi

Kalo ini namanya memperbaiki gizi. Perjalanan melelahkan harus dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang. Gizi yang aku maksud bukan hanya tentang steak atau milk shake. Tapi gizi yang akan membuat hati akan senantiasa hidup.
Bahwa jasad ini hanya akan seperti mayat hidup jika hati yang ada dalam dada ini mati. Maka hati harus diberikan nutrisi yang pas. Agar dia senantiasa hidup.
Teringat sebuah hadis, istafti qalbak, mintalah fatwa pada hati mu. Maka agar hati ini mampu berfatwa dan menuntun manusia semakin dekat dengan Dzat yang menguasai hati, maka hidupkanlah hati. Berilah dia haknya. Tilawah Al-Qur'an dan dzikir. Bismillah.. Tentang #menghidupkan hati
#menguatkan hati

Sebuah #interpretasi
Sebuah #pesan

Perjalanan dan Pesan Rindu

Foto by adik
dishare juga di akun Instagram dan Tumblr pribadi

Perjalanan itu seperti kita sedang mengukir sebuah kenangan, *eh maksudnya sejarah. Sejarah yang akan dapat kita ceritakan dan menjadi sebuah pesan tak beralamat. Lebih tepatnya pesan khusus bagi mereka yang memahaminya. Tapi tak jarang, meski hanya berupa gambar bahkan siluet sekalipun, pesan itu sampai kepada hati yang dituju. Entah itu pesan cinta atau pesan rindu.

Sebuah #interpretasi
Sebuah #pesan

Jumat, 12 Juni 2015

Menghapus Jejak di Borobudur


Senja sore itu kembali memberikan hangatnya. Kehangatan warna jingga. Jingga yang mengingatkan aku tentang jejak. Jejak yang tersapu oleh hujan. Namun senja kemarin, memaksa jejak-jejak kenangan yang tersapu hujan, kembali hadir. Mengingatkan kembali kepada sebuah memori lama yang sudah lama ku buang jauh. Sebuah memori tentang pemberhentian yang seharusnya menjadi tempat pengaduan.

#Mengelilingi matahari | Menghapus jejak di Borobudur
Senja Borobudur, 10 Juni 2015

Selasa, 09 Juni 2015

Merahasiakan Rintik Hujan


Di penghujung Bulan Mei. Dan kamu, hey kamu, selamat datang Bulan Juni.
Ada hujan yang telah menghapus jejak-jejak rindu. Melarutkan sajak-sajak rindu dalam sebuah doa. Bukan kata tapi doa. Rindu yang merintik di atas dedaunan, meresap ke dalam akar-akar pohon. Merahasiakan rintik rindu yang menjadi hujan. Mungkin itulah sebab kita harus berterima kasih kepada hujan. Rintiknya tak hanya menghapus jejak-jejak rindu, tapi juga merahasiakannya dalam doa. Merubah cinta penuh nafsu menjadi cinta yang mulia.

Untuk saat ini, ada yang harus tetap menjadi rahasia ku denganNya. Tidak semua yang kita rasa harus diungkapkan, bukan? Biar saja untuk saat ini, ekspresi rindu itu adalah doa. Seperti Ali yang merahasiakan cintanya kepada Fatimah. Dan biar saja untuk saat ini, kita nikmati luka dan patah. Saat seolah tak peduli dan acuh melihat mu jatuh. Meski hati merasakan perih melihat ranting yang patah. Sakit memang, tapi bukankah rasa sakit ini sebanding dengan cinta yang mulia? Cinta yang berbuah surga.

Kamis, 04 Juni 2015

Tentang Senja dan Surat yang tak Beralamat


Seperti senja-senja sebelumnya. Hadirnya membawa jingga di hamparan langit, juga di dinding-dinding hati. Ada perasaan yang terwakili olehnya. Ingatan-ingatan lama yang dipaksa untuk kembali hadir. Yang kemarin saat hujan tersapu bersih, larut begitu saja. Sebuah kenangan. Kita yang sempat mengabadikannya dalam sebuah gambar, yang senja ini ku pasang di beranda hati ku.

Tiba-tiba rindu hadir dan senja, dia seperti memahami untuk siapa rindu ini.

Seperti senja-senja yang belum lama ini ku lalui. Detik-detik itu aku lalui sendiri, seperti biasanya. Ku buat sepucuk surat tak beralamat, yang jelas-jelas itu untuk mu. Entah kamu tahu atau tidak. Surat yang dibuat saat hati seperti senja hari ini. Saat jingga perlahan menghitam. Kamu bertanya tentang warna merah yang tengah membara di hati mu. Konon ada energi yang membuncah. Seperti air mendidih, geram dengan situasi yang tak menentu. Aku? Seperti sebelum-sebelumnya. Menyerah dan kalah dengan argumen mu.

Dan seperti sebelum-sebelumnya. Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan yang menciptakan senja. Kepada yang menciptakan rindu ini.

Selasa, 02 Juni 2015

Sama-sama Diam


Kini hari-hari seperti aku tak pernah mengenal mu. Tak ada sapa atau tanya. Perjumpaan kita diisi dengan senyum malu-malu. Bahkan kadang lebih tragis. Kita sama-sama diam tak berkutik. Asik menikmati waktu-waktu sendiri. Tapi aku, diam ku penuh kepura-puraan. Entah, kamu melakukan hal yang sama dengan ku atau tidak. Yang aku rasakan saat tak sengaja  atau lebih tepatnya itu adalah kesengajaan yang ku buat – menyapa mu, kamu tampak antusias. Seperti merindukan percakapan kita. Sekali lagi, itulah yang aku rasakan.

Seperti nampak mudah untuk membuat sebuah keputusan. Mengambil pilihan sikap yang akan merubah hidup ku dan hidup mu, hidup kita. Pilihan untuk menghilangkan keraguan yang membutuhkan dengan segera sebuah kepastian. Waktu itu semua nampak indah. Ada banyak perasaan yang ingin aku sampaikan. Kita pernah berjalan bersama dan berhenti bersama dengan irama yang sama. Kita juga pernah menikmati hujan bersama. Dan hujan itu jua yang akan meluruhkan setiap jarak di antara kita. Menghanyutkannya hingga ke samudera, tapi aku tak bisa. Maka pilihannya untuk saat ini adalah kita sama-sama diam.

Biarkan untuk saat ini aku simpan kenangan-kenangan itu di sebuah tempat yang jauh. Aku juga tidak akan membuatkan peta jalannya, agar kenangan-kenangan itu tak mudah ditemukan. Atau aku akan bersembunyi di balik wajah kaku ku yang dulu. Wajah yang selama ini entah bagaimana caranya, saat aku mengenalmu, aku seperti lupa bagaimana cara menampilkannya. Aku menyerah kepada mu, setiap kali aku tak tega melihat mu terjatuh. Saat itu juga wajah kaku dan seram hilang seketika. Aku menyerah, aku kalah. Tapi kali ini, agar yang tak terungkap tetap menjadi rahasia, akan aku lakukan. Meski mungkin seperti yang sudah-sudah, sekali lagi, untuk kesekian kalianya aku menyerah.

Jumat, 29 Mei 2015

Lebih Baik Aku Perbincangkan Kamu dengan Tuhan


Perbincangan ku dengan Tuhan dalam setiap malam, ada rahasia kita
Bertanya tentang kabar mu disana yang entah dimana
Sebenarnya aku tahu tempat tinggal mu
Aku juga tahu dimana kamu mengelilingi matahari setiap harinya
Tapi aku tak tahu dimana kamu saat detik wajah teduh mu mampir di ingatan pendek ku
Bukan aku tak mau bertanya
Aku hanya bingung untuk apa aku menanyakan ini pada mu?
"Hai, apa kabar? Bagaimana dengan study mu?"
Setiap huruf-huruf yang telah kurangkai, menjadi kata rindu di kipet HP Nokia 5130-C merah tua itu, terpaksa aku hapus lagi
Aku bingung, untuk apa aku menanyakan kabar mu?
Hanya alasan pengobat rindu
Doa adalah pengaduan terakhir ku
Aku perbincangkan kamu dengan Tuhan
Aku sisipkan ini dan itu tentang mu walau sebait doa saja
Lucu jadinya
Seperti anak kecil yang menginginkan sebuah mainan, tapi tak terpenuhi
Dia pinta mainan itu kepada Tuhan
Meminta Tuhan mengabulkannya, membujuk kedua orang tuanya agar mau membelikannya mainan
Tapi apa daya?
Siapa aku?
Tuhan belum izinkan
Aku lebih takut Tuhan akan cemburu kepada ku
Memang lebih baik seperti ini
Bersembunyi di balik senyum kaku yang terlihat tak ikhlas
Mencoba berdamai dengan hati yang mendesak-desak untuk bertanya tentang rindu
Mencoba memberi tahu mu, bahwa aku rindu
Lebih baik seperti ini
Mengekspresikan rindu-rindu itu dalam doa
Biar kamu tetap menjadi rahasia ku dengan Tuhan

Kamis, 29 Januari 2015

HP Pintar; Manusia Bodoh

Kalo beberapa waktu yang lalu ada yang tanya, kenapa sekarang WA-nya gak aktif, HP-nya kemana?
Aku cuma menjawab, "Aku jual, aku jadi autis karena pake HP itu"
Mungkin ini karena faktor aku-nya aja sih, tapi monggo bisa ambil hikmah dari video yang aku share ini. Semoga bermanfaat.......

Sabtu, 24 Januari 2015

Post Power Syndrome

Penyakitnya aktivis senior salah satunya adalah post power syndrome.
Katanya gitu...

Dalam penjelasan secara teori post power syndrome adalah suatu keadaan yang terjadi akibat seseorang hidup dalam kebesaran bayang-bayang masa lalunya (bisa berupa jabatan, karier, kecerdasan, kepemimpinan, atau hal lainnya), dan belum dapat menerima realita yang ada saat ini.

Post power syndrome bisa terjadi dalam berbagai motif. Bisa terjadi dalam motif kepedulian sehingga mengharuskan dirinya sendiri untuk senantiasa ada di samping penerusnya. Kemudian kekhawatiran berlebih kepada penerusnya yang membuat dia terus memberikan intervensi yang terbalut manis dengan sebuah kertas kado bernama "masukan". Tapi inti dari semua kertas kado ini adalah "eksistensi kekuasaan" yang kemudian kita sering kenal dengan nama post power syndrome.

Padahal kepedulian dan rasa kekhawatiran tak selamanya mengharuskan kita terus-menerus ada di sampingnya. Seperti seorang anak kecil yang baru saja belajar berjalan. Kadang dia harus terjatuh untuk dapat berjalan hingga dia bisa berlari. Tapi sebagai orang tua kita tak harus terus-menerus menuntunnya, memegangi tangannya. Pada fase-fase awal terutama saat sang anak sudah mulai aktif dan duduk meski terduyun-duyun karena lehernya belum kuat memikul kepalanya yang besar. Sang anak mulai bisa kita ajak dia untuk berdiri, mengajaknya jalan-jalan. Tapi saat sang anak mulai bisa duduk tegak tak lagi terduyun-duyun, inilah saat kita mulai mempercayakannya untuk dapat berdiri sendiri dengan kakinya yang mungil. Memotivasinya, memberikan senyuman yang pada akhirnya kita akan melihat sang anak mulai bisa berjalan meski dengan langkah yang masih sempoyongan. Tiba-tiba terjatuh dan tersenyum manis. Seperti sedang mengatakan, "mamah terima kasih sudah biarkan adik berdiri dan berjalan dengan kaki adik. Nanti giliran adik yang akan menuntun mamah dengan kaki adik yang sudah kuat ini."

Memang berat melepaskan penerus kita berjalan sendirian. Mengarungi samudra penuh gelombang, yang tak jarang akan terjadi badai. Namun inilah saat dimana kita harus percaya kepada penerus kita. Kita dampingi dia dengan doa, motivasi, dan senyum manis. Tak perlu terus-menerus menuntunnya, memegangi tangannya. Meski kadang kita harus turut merasakan sakit saat melihatnya terjatuh. Tapi inilah fase belajar itu. Ingatlah pesan Allah, "Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain". (QS Al-Insyirah: 7). Ada ladang lain yang harus kita tanami dengan benih-benih kebaikan. Sudah saatnya kita memberikan kepercayaan kepada penerus kita. Dan kalian para penerus kami, cukuplah kami menjadi sejarah untuk diambil hikmahnya. Bukan mengharapkannya kembali terulang sehingga kalian tidak belajar. Selamat bekerja adik-adikku. Jika kau tak temukan kami memotivasimu, masih ada Allah yang selalu hidup dan tak pernah lalai terhadapmu. Bersandarlah kepada-Nya saat kau lelah, lalu segeralah bangkit melanjutkan pelayaranmu.

Tentang Analogi Memikul Beban


Membuat daftar tunggu itu seperti sedang mengatur setiap jeda agar tak hanya menguap. Berlalu begitu saja jarum jam yang beputar. Namun begitu hati hadir dalam setiap pengamatan. Maka jarum jam yang berputar tidak hanya terlihat berputar-putar tiga ratus enam puluh derajat tanpa henti secara fisik. Kita akan memahami bahwa ada detik-detik yang hilang pada setiap langkahan jarum jam. Kita akan mulai sibuk berfikir. Betapa bodohnya membiarkan diri ini terjebak dalam jeda waktu yang berlalu. Membiarkan kisah hanya menjadi masa lalu yang patut dilupakan.
Kadang aku berfikir hidup ini seperti kita sedang bermain catur. Sebenarnya kita hanya akan memainkan dua buah jenis warna bidak hitam atau putih. Masing-masing warna bidak memiliki bentuk, nama, dan fungsi bidak yang berbeda. Jumlah yang telah disesuaikan dan cara kerja yang juga sudah disesuaikan. Kita hanya butuh sebuah strategi agar kita bisa mengalahkan lawan dari bidak kita, skakmat. Itulah sebuah daftar tunggu. Sebuah perencanaan yang tidak sekedar daftar mimpi yang kelak akan usang dan menguap. Benar-benar sukses untuk menjadi mimpi tapi tak ada realisasi.
Maka tak heran jika sering kita menemukan seseorang merasa beban yang dia pikul begitu berat. Menghilang, melarikan diri seperti hantu. Dia ada tapi tak bisa kita temukan. Padahal setiap beban telah diukur. Apalagi kita sudah membuat daftar tunggu. Sehingga kita dapat membuat strategi untuk memikul beban itu. Lagi pula pundak kita tidak menjadi satu-satunya pundak. Pun ada Allah yang bisa menjadi sandaran saat kita lelah. Adukan saja pada-Nya biar pundak kita dikuatkan, lutut dikokohkan, dan hati dimantapkan. Apalagi ada banyak benih muda yang sudah hadir di hadapan kita. Sudah seharusnya kita malu. Sepatutnya juga kita seperti menjadi sebuah buku berjalan. Yang akan dijadikan referensi oleh mereka para benih muda. Kita juga seharusnya malu pada semut. Badannya yang kecil tak membuat dia patah arang untuk mengais rizki yang Allah hamparkan. Dia masih mampu memikul beban yang beratnya lima puluh kali lipat dari berat badannya. Maka untuk apa lagi Allah abadikan namanya dalam surat cinta-Nya jika bukan sebagai pelajaran bagi manusia?

Rabu, 14 Januari 2015

Tak Pantas

tak pantas manusia macam kita berlagak tanpa dosa
kenyataan mata memandang penuh kekurangan
ada sebagian lagi yang menatap penuh amarah
mereka tidak terima kita seperti malaikat
kita sama-sama tahu
ada celah yang kadang luput dari mata
pantaskah manusia macam kita berlagak?
aku kira hanya dia yang boleh berlagak
tapi kenyataan dia tetap pada kezuhudannya
memandang dunia tak lebih dari sekedar ladang pengumpul bekal akhirat


Kutipan dalam percakapan singkat
Pojok Surau | 14 Januari 2015 | 20.35

Menemani Hati-Hati yang Lelah

Ada banyak hati yang sedang lelah. Sehingga menit-menit berlalu begitu saja. Hanya terdengar suara tetes-tetes air hujan di balik jendela, yang sesekali berjeda kata dari mulut-mulut yang lelah. Mereka seperti zombi. Hidup namun banyak kesuraman yang terpancar dari mata-mata yang mewakili hati. Aku mengerti dan aku hanya bisa menulis saat kondisi itu terjadi. Sembari berdoa, ada malaikat yang datang memecah kesuraman. Dan, jam sudah menunjukkan waktu Isya. Sepertinya doa terkabul, hati perlu kembali diistirahatkan. Menjemput panggilannya yang telah berlalu tiga sampai lima menit yang lalu.

Menemani hati-hati yang kelelahan,
Pojok Surau, 13 Januari 2015 | Pukul 19.00 WIB

Senin, 12 Januari 2015

Tanggung Jawab dan Cinta

Pernah mendengar dua istilah ini? Ambil pusing dan tidak ambil pusing. Sebenarnya dua istilah ini hanya dibedakan oleh dua kata. Yang dengan dua kata itu akan menjadikan keduanya menjadi beda makna. Entah siapa yang pertama kali menggunakan dua istilah ini. Tapi akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan dua istilah ini.
Ada yang harus aku jelaskan dari dua istilah yang telah tega membuatku sibuk. Secara subjektif, kedua istilah ini akan aku jelaskan dengan sudut pandang positif dan negatif saja. Dalam arti keduanya akan aku kaitkan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang.
Pertama yang akan aku jelaskan adalah tidak ambil pusing. Seperti pada penjelasan sebelumnya, hal ini berkaitan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang. Ada orang-orang di sekeliling kita yang memiliki tipe ini. Tidak mau ambil pusing. Orang pada tipe ini memiliki kecendrungan menyepelekan. Ini berbeda dengan berfikir sederhana. Orang yang berfikir sederhana adalah orang yang memiliki pemikiran efisien dan memiliki kecendrungan solutif. Tapi orang yang memiliki kecendrungan menyepelekan, dia lebih cendrung menganggap semua enteng, tidak solutif, dan terlalu menggantungkan semuanya pada orang lain. Benar kita adalah makhluk yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bukan berarti semua kita gantungkan kepada orang lain. Menganggap setiap orang akan dapat memaklumi semua sikap kita yang cedrung menyepelekan itu. Orang semacam ini sangat jelas tidak memiliki rasa tanggung jawab. Dan rasa cinta kepada tanggung jawabnya harus dipertanyakan. Bagaimana mungkin seorang yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta, sangat abai dan menyepelekan.
Istilah yang kedua adalah ambil pusing. Istilah ini berkebalikan dengan istilah pertama yang telah aku jelaskan. Orang yang ada pada tipe ini memang bukan hanya memiliki cara berfikir sederhana. Dia memiliki rasa tanggung jawab dan juga cinta. Saat seseorang pada tipe ini diberikan sebuah tanggung jawab, dia akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Tidak terpengaruh dengan kondisi sekelilingnya yang entah membantunya atau justru membiarkannya bekerja sendiri. Ada beberapa orang di sekeliling kita yang saat menerima bantuan justru membuatnya menjadi malas. Meski ada juga yang justru semakin bersemangat saat melihat ada banyak kepedulian. Begitu juga ada yang saat dia bekerja sendiri dan tak ada satupun yang peduli terhadapnya, dia akan menjadi bersemangat. Dia ingin menunjukkan bahwa dia tetap mampu bekerja walau hanya sendiri. Tapi ini adalah emosi yang entah berlandas cinta atau amarah. Dan saat itu ada orang yang saat dia sendiri malah menjadi tak bersemangat. Merasa kesepian hingga akhirnya dia mati. Posisi inilah yang disebut posisi netral.
Kondisi ini akan sangat dipengaruhi oleh hati yang memiliki rasa tanggung jawab dan cinta. Keduanya adalah sumber energi bagi kaki dan tangannya untuk begerak. Tidak mudah mengabaikan seberapa kecil monster yang ada di hadapannya. Tapi juga tidak terlalu merasa ketakutan saat menghadapi monster besar yang sedang dihadapinya. Cinta yang memiliki sumber yang benar akan menghasilkan energi yang besar. Sumber yang benar itu adalah Tuhan yang manciptakan rasa cinta itu. Mungkin cukup hati kita yang mengalah, merasakan rasa sakit. Sehingga tidak akan banyak hati yang dikecewakan dan disakiti. Lagipula beban di pundak sudah diukur oleh Tuhan pemilik seluruh rasa cinta.

Jumat, 09 Januari 2015

Menunggu Jawaban

Menunggu jawaban itu seperti mengharap-harap munculnya pelangi setelah hujan. Tak ada kepastian.Pun hujan yang datang hari ini tidak seperti biasanya. Dia cukup deras. Namun hujan yang deras itu datang tiba-tiba. Seperti mengerti tentang gersangnya bumi. Sehingga pelangi yang diharap-harap belum pasti kemunculannya. Mungkin pelangi sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban juga seperti menatap langit di kala malam mulai menyelimut. Mengharap bulan dan bintang menari-nari di langit. Beradu terang tak mau mengalah. Malam yang gelap menjadi cerah. Tapi itu juga belum pasti. Kadang awan gelap menutup begitu saja pentas tari. Seolah mengatakan pertunjukan telah usai. Atau malam ini pertunjukan tengah libur. Mungkin langit sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban memang membosankan. Apalagi harus menunggu tiga hari kedepan. Terbesit rasa ketidakpastian. Tapi ada harap begitu besar tertanam. Ada cinta yang harus diperjuangkan. Bagiku ini pengorbanan. Karena saat itu akan ada harapan yang patah. Entah itu harapanku atau harapan orang lain. Biarlah langit menentukan jawabannya.