Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Hujan yang Menjadi Gerimis

Puas rasanya bumi dicumbui rindu oleh langit. Hujan! Dua belas jam lebih ku hitung, tanah ini basah kuyup. Kaca jendela yang mengembun. Diam-diam ku tuliskan deretan kosakata cinta disana. Terangkai manis, menjadi doa yang bisa dibaca oleh siapa saja yang menyukai hujan. Lalu ku bisikkan dalam larut ketundukan kepada Tuhan. Berharap rahmatNya turut mengiringi.
Ada fajar yang tak biasa hari ini. Langit yang masih tampak malu membuka tabirnya. Hujan yang menjadi gerimis. Ada rindu seperti hujan yang tadi turut terpanjatkan ke langit. Ku bisikkan lamat-lamat berharap itu sampai di tujuan. Seperti rindunya langit kepada bumi.

Jumat, 26 Juni 2015

Merindukan Kalian, Laskar 9


Ada sebuah ingatan fotografis. Terpotret dengan jelas setiap fragmen yang telah kita lalui. Tentang canda-canda kecil yang kita buat. Saling bertukar fikiran yang membuat suasana riuh berubah menjadi begitu serius. Tapi itu tidak akan bertahan lama. Selalu saja ada yang memecahkan gelas di tengah keheningan. Suara riuh kembali tercipta.


Ada kebahagiaan yang tak bisa kita katakan. Tapi sorot mata tak bisa berbohong. Ada kerinduan yang membuat pertemuan-pertemuan kita begitu dirindukan. Meski masing-masing kita telah begitu jauh. Tapi robitoh telah mengikat hati-hati kita. Ada pertemuan dalam doa-doa malam kita. Ada harapan yang terpanjatkan ke atas langit. Tentang sebuah pertemuan abadi yang amat kita nantikan. Allah, pertemukan kembali kami di surga.
#L9

Minggu, 21 Juni 2015

Kisah Senja ini di Bulan Ramadhan


Hari ini, di senja pada bulan Ramadhan, tibalah sebuah kereta api di sebuah stasiun bernama Stasiun Pemberhentian. Seperti sudah sunatullah, saat itu ada penumpang yang turun, juga ada penumpang yang naik. Kereta api akan melanjutkan perjalanannya menuju ke stasiun pemberhentian selanjutnya. Melakukan perjalanan yang panjang dengan membawa perbekalan yang ada. Ada harapan kita akan menjumpai sebuah rel kereta yang melalui jalur-jalur perbukitan. Naik turun hingga saat kita sampai di sebuah tempat yang indah. Terlihat sebuah pemandangan sawah dan ladang. Petani sibuk menyiangi sawah dan ladang. Burung-burung bangau sedang mencari nafkah. Ada yang mendapatkan santapan lezat senja itu. Perjalanan saat itu membuat hati lebih sejuk, mulut memuji namaNya atas keindahan ciptaanNya.


Sayangnya tidak semua perjalanan akan terasa sedemikian indah. Kita meyakini ada kalanya kita akan menjumpai terowongan panjang nan gelap. Ada cahaya dan itu hanya ada di ujung terowongan. "Kita harus mencapainya," ucap ku. Lebih penting dari itu adalah sebuah pilihan sikap. Kita akan menjadi manusia yang bersyukur atau kufur. Menjadi manusia yang yakin atau ingkar. Hal ini juga sebuah sunatullah. Kita hanya dihadapkan pada sebuah pilihan sikap dan kita harus bertanggung jawab dengan pilihan sikap tersebut.

Kereta api ini tidak pernah menjanjikan sebuah perjalanan yang menyenangkan, kereta api ini hanya menjanjikan sebuah perjalanan, hanya itu. Sekali lagi, hanya menjanjikan sebuah perjalanan. Kita yang akan membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan, biasa-biasa saja, atau perjalanan yang tidak hanya menyenangkan tapi juga kenangan. Perjalanan itu akan menjadi kenangan jika hanya ada hati yang hadir disana. Ada cinta yang menyertai perjalanan itu. Bukan hanya berbicara tentang sebuah beban, lelah, atau kewajiban. Sekali lagi tentang perjalanan cinta. Perjalanan yang menghadirkan cinta. Tentu cinta itu lahir dari buah ketulusan bukan keterpaksaan. Sehingga kita mampu menikmati buah dari ketaatan kita kepada Allah yang Maha mengetahui.

Aku amat yakin, rencanaNya jauh lebih indah daripada rencana dalam proposal hidup yang telah aku ajukan kepadaNya.

Benar perjalanan ini berat, benar perjalanan ini sakit, tapi ingat ada saat dimana kita jumpai perjalanan indah. Dan itu hanya akan dapat dirasakan jika hati ini memiliki cinta dan cinta itu sekali lagi adalah buah dari ketulusan. Mari kita melakukan perjalanan ini dengan hati riang?

Jumat, 19 Juni 2015

The Most Excellent



"...sesungguhnya Engkau Maha kuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha tahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha mengetahui perkara yang gaib".

Kira-kira itulah cuplikan dialog ku malam ini dengan Allah. Ada pekara yang sangat emosional, mampir di pelataran. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, ini seperti aku ingin mengatakan tidak, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut ku. Dia kaku, beku.

"Siapa aku ini? Hingga lancang tidak melibatkan Allah dalam urusan yang sedang aku hadapi". Ada sebesit marah. Hati dan akal yang tadinya tenang, tiba-tiba badai menghempas. Bergoyanglah akal dan hati kesana kemari, gelisah. "Pantas saja — ku pikir". Aku tidak melibatkan Allah dalam urusan ini. "Siapa aku ini yang lancang tidak melibatkan Allah?" Langkah-langkah kecil akhirnya ku buat malam ini, untuk mendiskusikan beberapa hal denganNya.

Tibalah akhirnya aku duduk bersimpuh, membicarakan proposal yang telah aku adukan kepadaNya beberapa hari yang lalu. Aku sampaikan kepadaNya. "Wahai Allah, aku telah menyampaikan proposal hidup ku kepada Mu. Tentu tanpa itu pun — aku yakin — Engkau sudah merencanakan hal-hal indah untuk ku. Tapi ini adalah upaya ku untuk berdiskusi; berikhtiar; berdoa, seperti yang Engkau perintahkan kepada hamba Mu. Engkaulah yang berhak mengACC atau tidak proposal ku. Engkau Maha kuasa sedangkan aku tidak. Engkau Maha tahu sedangkan aku tidak, dan Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib. Aku? Engkau tahu jika urusan ini tidak sepintasan mimpipun singgah di malam-malam lelap ku. Tidak ada poin dalam proposal hidup ku tentang urusan ini. Tapi tiba-tiba dia hendak bertamu dalam teras hidup ku. Ada rasa keterpaksaan — saat ini — untuk melukisnya dalam kanfas hidup ku. Apakah ini adalah ujian keimanan dari Mu, Wahai Allah? Sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk ku, agama ku, dan kehidupan ku, serta (lebih baik pula) akibatnya (di dunia dan akhirat), maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagi ku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini. Namun, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih buruk untuk ku, agama ku, dan kehidupan ku, serta (lebih buruk pula) akibatnya (di dunia dan akhirat), maka jauhkanlah urusan ini dari ku, dan jauhkanlah aku dari urusan ini, dan takdirkanlah kebaikan untuk ku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya".

Kini tinggallah rasa ikhlas atas segala keputusan. Aku yakin, Allah punya rencana yang lebih indah untuk ku. Seindah apa pun aku merencanakan perjalanan hidup ku, rencana Allah tentu jauh lebih indah. Tidak ada tandingannya. God's plan is the most excellent (bahasa Inggrisnya bener gak yah? ^_^ ).

Minggu, 14 Juni 2015

Nutrisi untuk Hati

Foto by Kakak
dishare juga di akun Instagram dan Tumblr pribadi

Kalo ini namanya memperbaiki gizi. Perjalanan melelahkan harus dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang. Gizi yang aku maksud bukan hanya tentang steak atau milk shake. Tapi gizi yang akan membuat hati akan senantiasa hidup.
Bahwa jasad ini hanya akan seperti mayat hidup jika hati yang ada dalam dada ini mati. Maka hati harus diberikan nutrisi yang pas. Agar dia senantiasa hidup.
Teringat sebuah hadis, istafti qalbak, mintalah fatwa pada hati mu. Maka agar hati ini mampu berfatwa dan menuntun manusia semakin dekat dengan Dzat yang menguasai hati, maka hidupkanlah hati. Berilah dia haknya. Tilawah Al-Qur'an dan dzikir. Bismillah.. Tentang #menghidupkan hati
#menguatkan hati

Sebuah #interpretasi
Sebuah #pesan

Perjalanan dan Pesan Rindu

Foto by adik
dishare juga di akun Instagram dan Tumblr pribadi

Perjalanan itu seperti kita sedang mengukir sebuah kenangan, *eh maksudnya sejarah. Sejarah yang akan dapat kita ceritakan dan menjadi sebuah pesan tak beralamat. Lebih tepatnya pesan khusus bagi mereka yang memahaminya. Tapi tak jarang, meski hanya berupa gambar bahkan siluet sekalipun, pesan itu sampai kepada hati yang dituju. Entah itu pesan cinta atau pesan rindu.

Sebuah #interpretasi
Sebuah #pesan

Jumat, 12 Juni 2015

Menghapus Jejak di Borobudur


Senja sore itu kembali memberikan hangatnya. Kehangatan warna jingga. Jingga yang mengingatkan aku tentang jejak. Jejak yang tersapu oleh hujan. Namun senja kemarin, memaksa jejak-jejak kenangan yang tersapu hujan, kembali hadir. Mengingatkan kembali kepada sebuah memori lama yang sudah lama ku buang jauh. Sebuah memori tentang pemberhentian yang seharusnya menjadi tempat pengaduan.

#Mengelilingi matahari | Menghapus jejak di Borobudur
Senja Borobudur, 10 Juni 2015

Selasa, 09 Juni 2015

Merahasiakan Rintik Hujan


Di penghujung Bulan Mei. Dan kamu, hey kamu, selamat datang Bulan Juni.
Ada hujan yang telah menghapus jejak-jejak rindu. Melarutkan sajak-sajak rindu dalam sebuah doa. Bukan kata tapi doa. Rindu yang merintik di atas dedaunan, meresap ke dalam akar-akar pohon. Merahasiakan rintik rindu yang menjadi hujan. Mungkin itulah sebab kita harus berterima kasih kepada hujan. Rintiknya tak hanya menghapus jejak-jejak rindu, tapi juga merahasiakannya dalam doa. Merubah cinta penuh nafsu menjadi cinta yang mulia.

Untuk saat ini, ada yang harus tetap menjadi rahasia ku denganNya. Tidak semua yang kita rasa harus diungkapkan, bukan? Biar saja untuk saat ini, ekspresi rindu itu adalah doa. Seperti Ali yang merahasiakan cintanya kepada Fatimah. Dan biar saja untuk saat ini, kita nikmati luka dan patah. Saat seolah tak peduli dan acuh melihat mu jatuh. Meski hati merasakan perih melihat ranting yang patah. Sakit memang, tapi bukankah rasa sakit ini sebanding dengan cinta yang mulia? Cinta yang berbuah surga.

Kamis, 04 Juni 2015

Tentang Senja dan Surat yang tak Beralamat


Seperti senja-senja sebelumnya. Hadirnya membawa jingga di hamparan langit, juga di dinding-dinding hati. Ada perasaan yang terwakili olehnya. Ingatan-ingatan lama yang dipaksa untuk kembali hadir. Yang kemarin saat hujan tersapu bersih, larut begitu saja. Sebuah kenangan. Kita yang sempat mengabadikannya dalam sebuah gambar, yang senja ini ku pasang di beranda hati ku.

Tiba-tiba rindu hadir dan senja, dia seperti memahami untuk siapa rindu ini.

Seperti senja-senja yang belum lama ini ku lalui. Detik-detik itu aku lalui sendiri, seperti biasanya. Ku buat sepucuk surat tak beralamat, yang jelas-jelas itu untuk mu. Entah kamu tahu atau tidak. Surat yang dibuat saat hati seperti senja hari ini. Saat jingga perlahan menghitam. Kamu bertanya tentang warna merah yang tengah membara di hati mu. Konon ada energi yang membuncah. Seperti air mendidih, geram dengan situasi yang tak menentu. Aku? Seperti sebelum-sebelumnya. Menyerah dan kalah dengan argumen mu.

Dan seperti sebelum-sebelumnya. Aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan yang menciptakan senja. Kepada yang menciptakan rindu ini.

Selasa, 02 Juni 2015

Sama-sama Diam


Kini hari-hari seperti aku tak pernah mengenal mu. Tak ada sapa atau tanya. Perjumpaan kita diisi dengan senyum malu-malu. Bahkan kadang lebih tragis. Kita sama-sama diam tak berkutik. Asik menikmati waktu-waktu sendiri. Tapi aku, diam ku penuh kepura-puraan. Entah, kamu melakukan hal yang sama dengan ku atau tidak. Yang aku rasakan saat tak sengaja  atau lebih tepatnya itu adalah kesengajaan yang ku buat – menyapa mu, kamu tampak antusias. Seperti merindukan percakapan kita. Sekali lagi, itulah yang aku rasakan.

Seperti nampak mudah untuk membuat sebuah keputusan. Mengambil pilihan sikap yang akan merubah hidup ku dan hidup mu, hidup kita. Pilihan untuk menghilangkan keraguan yang membutuhkan dengan segera sebuah kepastian. Waktu itu semua nampak indah. Ada banyak perasaan yang ingin aku sampaikan. Kita pernah berjalan bersama dan berhenti bersama dengan irama yang sama. Kita juga pernah menikmati hujan bersama. Dan hujan itu jua yang akan meluruhkan setiap jarak di antara kita. Menghanyutkannya hingga ke samudera, tapi aku tak bisa. Maka pilihannya untuk saat ini adalah kita sama-sama diam.

Biarkan untuk saat ini aku simpan kenangan-kenangan itu di sebuah tempat yang jauh. Aku juga tidak akan membuatkan peta jalannya, agar kenangan-kenangan itu tak mudah ditemukan. Atau aku akan bersembunyi di balik wajah kaku ku yang dulu. Wajah yang selama ini entah bagaimana caranya, saat aku mengenalmu, aku seperti lupa bagaimana cara menampilkannya. Aku menyerah kepada mu, setiap kali aku tak tega melihat mu terjatuh. Saat itu juga wajah kaku dan seram hilang seketika. Aku menyerah, aku kalah. Tapi kali ini, agar yang tak terungkap tetap menjadi rahasia, akan aku lakukan. Meski mungkin seperti yang sudah-sudah, sekali lagi, untuk kesekian kalianya aku menyerah.

Jumat, 29 Mei 2015

Ost Tutorial PAI UNY By Angkatan 2014 FBS UNY


Lebih Baik Aku Perbincangkan Kamu dengan Tuhan


Perbincangan ku dengan Tuhan dalam setiap malam, ada rahasia kita
Bertanya tentang kabar mu disana yang entah dimana
Sebenarnya aku tahu tempat tinggal mu
Aku juga tahu dimana kamu mengelilingi matahari setiap harinya
Tapi aku tak tahu dimana kamu saat detik wajah teduh mu mampir di ingatan pendek ku
Bukan aku tak mau bertanya
Aku hanya bingung untuk apa aku menanyakan ini pada mu?
"Hai, apa kabar? Bagaimana dengan study mu?"
Setiap huruf-huruf yang telah kurangkai, menjadi kata rindu di kipet HP Nokia 5130-C merah tua itu, terpaksa aku hapus lagi
Aku bingung, untuk apa aku menanyakan kabar mu?
Hanya alasan pengobat rindu
Doa adalah pengaduan terakhir ku
Aku perbincangkan kamu dengan Tuhan
Aku sisipkan ini dan itu tentang mu walau sebait doa saja
Lucu jadinya
Seperti anak kecil yang menginginkan sebuah mainan, tapi tak terpenuhi
Dia pinta mainan itu kepada Tuhan
Meminta Tuhan mengabulkannya, membujuk kedua orang tuanya agar mau membelikannya mainan
Tapi apa daya?
Siapa aku?
Tuhan belum izinkan
Aku lebih takut Tuhan akan cemburu kepada ku
Memang lebih baik seperti ini
Bersembunyi di balik senyum kaku yang terlihat tak ikhlas
Mencoba berdamai dengan hati yang mendesak-desak untuk bertanya tentang rindu
Mencoba memberi tahu mu, bahwa aku rindu
Lebih baik seperti ini
Mengekspresikan rindu-rindu itu dalam doa
Biar kamu tetap menjadi rahasia ku dengan Tuhan

Senin, 06 April 2015

Bertahan!


Lelah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  kata sifat (Adjektiva) yang memiliki padanan kata dengan penat; letih; payah; lesu; tidak bertenaga. Jika ditambah imbuhan ke-an menjadi kata sifat perihal (keadaan) lelah. Menurut David Arnot, dkk (2009) dalam bukunya Pustaka Kesehatan Populer Mengenal Berbagai Macam Penyakit. Kelelahan adalah suatu kondisi pada tubuh manusia merasa lelah secara alami, yang biasa terjadi setelah latihan fisik atau mental yang berat.

Maraton adalah ajang lari jarak jauh sepanjang 42,195 km yang dapat ditempuh sebagai lomba di jalan raya maupun luar jalan raya (offroad). Seorang pelari maraton yang harus menempuh jarak 42,195 km tidak mungkin menggunakan lari sprint atau lari jarak pendek. Jika hal itu dilakukan justru akan membuat pelari maraton akan cepat lelah dan akhirnya tidak bisa mencapai garis finish. Bisa saja pelari tersebut sampai di garis finish, tapi untuk mencapai posisi maksimal nampaknya akan sulit karena sang pelari mengalami kelelahan akibat aktivitas fisik yang terlalu berat.

Analogi di atas setidaknya dapat memberikan gambaran tentang tulisan yang anda baca pada paragraf selanjutnya. Tentang kelelahan yang menghinggapi para aktivis! Meski dalam beberapa gambaran cerita nanti kami akan kaitkan pula dengan orientasi, niat. Analogi yang kami gunakan di atas mungkin akan cukup tendensius. Hal ini perlu kami sampaikan, agar terlepas dari perkara-perkara yang bersifat sinisme. Sehingga pembaca akan tetap melihat orang-orang yang kami ceritakan disini dengan kacamata hikmah, bukan sinisme akut yang justru menimbulkan kekecewaan sepihak.

Saat pertama kali memasuki "kawah candradimuka" ini ada sebesit keinginan untuk dapat meraih posisi nomor wahid di kawah candradimuka ini. Tapi tersebsit juga perasaan malas dan bosan dengan segudang aktivitas yang menurut kedua orang tuaku saat itu tidak bermanfaat. Apalagi saat itu rasa-rasanya aku lebih menyukai aktivitas akademik dan memasang target 3,5 tahun lulus. Sebuah mimpi dan cita-cita! Namun pada akhirnya singgahlah aku di sebuah pelayaran yang membawaku ke tengah samudera petualangan yang tidak pernah sekalipun menghampiri mimpi dalam tidurku. Berjumpa kawan-kawan dengan beragam cita dan orientasi. Berjumpa kawan-kawan dengan latar belakang yang luar biasa. Hingga sampailah aku disebuah pelabuhan yang mempertemukanku dengan sekelompok manusia yang luar biasa.

Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang aku kenal saat orientasi kampus. Maklum, mereka adalah orang yang menurutku amat kritis dengan segudang pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa. Ada pula kawan yang aku mengenalnya karena satu kelompok saat orientasi. Mereka adalah orang-orang luar biasa menurutku. Buktinya mereka semua telah mendahuluiku menyebarkan pengalaman dan pengetahuan mereka setelah menuntaskan cerita di kawah candradimuka.

Memulai pelayaran di samudra yang ganas ini – meski hanya dalam sebuah laboratorium besar – dengan kecepatan normal pelari maraton. Berusaha mengejar kawan-kawan yang sudah lebih dulu mendayung dengan kencang mengarungi samudra. Tak jarang di sela-sela perjalanan menemukan kapal yang sudah karam sebelum mencapai pertengahan jalan. Ada pula kapal yang berhenti sejenak lalu mendayung kembali dengan kecepatan yang jauh lebih pelan dari sebelumnya. Ada pula yang mendayung konstan. Dan ada yang mendayung dengan kecepatan yang fleksibel namun tetap memegang teguh prinsip untuk tetap dapat menggapai garis finish.

Ada rasa kehilangan. Mereka yang dulu sama-sama dibesarkan dalam satu laboratorium tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Parahnya ada pula yang justru menjadi batu sandungan dalam perjalanan. Ada seseorang yang berbisik, "begitulah hati, hanya Allah yang punya kehendak membolak-balikkan". Meski tak ada jaminan orang yang berkata ini akan istiqomah. Akhir, hanya Allah yang tahu. Tapi dari sinilah akhirnya kami menemukan bahwa hadis Nabi ini telah menggambarkan dengan terang. "Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah" (HR Ibnu Hibban). Berlari kencang bahkan sampai meninggalkan kawan-kawannya, tapi di tengah perjalanan justru menyatakan berhenti adalah pilihan yang amat tidak tepat. Wajar saja, dia kelelahan! Dia menemukan kejumudan! Ini adalah masalah pertama yang alami. Namun seharusnya saat kelahan itu dia semakin mendekat dengan la ilaha illallah. Bertahan di dalam lingkungan yang akan membantunya untuk menjaga energinya tetap stabil, meski telah amat memaksakan diri berlari kencang. Lingkungan ini pula yang akan mengingatkan "Hei, bersabarlah... Jangan tergesa-gesa". Dan sudah pasti, hati dan telinga ini harus setebal baja untuk dapat mendengar kalimat itu. Karena sudah pasti tidak hanya satu dua orang yang akan mengingatkan. Maka bertahanlah bersama "mereka"!

Lelah orientasi adalah masalah selanjutnya. Banyak di antara pelari itu membelot dan menjadi batu sandungan di tengah perjalanan. Kadang mereka seperti sebuah sel kanker stadium akhir. Menggerogoti tubuh dari dalam dan amat sulit disembuhkan. Tak jarang penderitanya harus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Hilanglah ia dari radar bak pesawat siluman atau pergi jauh tak tertangkap lagi oleh radar.

Perjalanan yang seharusnya berorientasi kepada la ilaha illallah, bergeser seratus delapan puluh derajat. Syahwat politik dan cinta menjadi ujian nyata di laboratorium candradimuka. Bukan berarti menyalahkan politik dan cinta, karena keduanya bersifat netral. Hanya saja, ide dalam otaklah yang lebih berbahaya jika gagal disandingkan dengan iman. Betapa rendahnya akal jika tak disandingkan dengan iman, dan betapa semunya iman jika tak bersanding dengan akal. Keduanya adalah konotasi yang saling berkaitan. Butalah ilmu tanpa iman dan lumpuhlah iman tanpa ilmu. Belum lagi bicara persoalan adab. Adakah kepala semakin tegak setinggi bukit karena ilmu yang dimiliki? Padahal baru seumur jagung menimba ilmu dan tak sebanding dengan samudra ilmu pengetahuan milik Allah. Maka banyak para pelari yang justru tersesat di belantara dunia, karena buta tak tahu arah dan tujuan. Kecewa syahwatnya tak terpenuhi hingga akhirnya pergi meninggalkan "mereka" orang-orang yang mencintaimu karena Sang pemilik ilmu. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS Al-Kahfi: 28).

Turbulensi apapun yang engkau alami, bersabarlah engkau bersama-sama dengan "mereka". Seperti inilah jalan yang akan dilalui saat engkau memilih intima' dengan jalan ini.  Bertahanlah disini, hingga satu demi satu kita dipanggilNya menghadap mempertanggung jawabkan perjalanan yang telah ditempuh. Dan bersiap siagalah! Semoga Allah istiqomahkan. Aamiin...

Sabtu, 04 April 2015

Untukmu di Grup MSM

Cepat atau lambat, pada akhirnya kita akan tetap menempuh jalan dengan gerbong yang berbeda. Meski memang gerbong yang akan kita naiki belum pasti. Tapi sebagai salam perpisahan kepada siapapun di dalam gerbong ini. Aku ingin ucapkan permohonan maafku kepada kalian. Aku juga harus ucapkan terima kasih karena aku telah diizinkan untuk mampir di dalam lembaran memori kalian.
Aku berdoa, semoga Allah dapat mengumpulkan kita kembali kelak di syurgaNya. Dan semoga Allah senantiasa merahmati kalian dalam setiap perjuangan menunaikan amanah yang tersemat di pundak ini.
Sebenarnya mau Cc, tapi kayanya gak usah deh yah? ^_^
Tetap ingat yah? Jadikan rabithah pengikatnya, jadikan doa ekspresi rindu. Semoga kita bersua di syurga

Jadi keinget sama lagu ini, "Senandung Ukhuwah" :-D

Di awal kita bersua
Mencoba tuk saling memahami
Keping-keping di hati
Terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridho-Nya

Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di syurga


Kamis, 12 Maret 2015

Kehilangan!

Sekarang aku seperti halnya serangga malam
Bernyanyi ketika dingin malam menjelang
Mengenang matahari yang tadi sudah tenggelam
Dengan gelisah menunggu saat pagi datang
Kehilangan!

Memang benar, malam itu dingin dan gelap
 
 

Rabu, 14 Januari 2015

Menemani Hati-Hati yang Lelah

Ada banyak hati yang sedang lelah. Sehingga menit-menit berlalu begitu saja. Hanya terdengar suara tetes-tetes air hujan di balik jendela, yang sesekali berjeda kata dari mulut-mulut yang lelah. Mereka seperti zombi. Hidup namun banyak kesuraman yang terpancar dari mata-mata yang mewakili hati. Aku mengerti dan aku hanya bisa menulis saat kondisi itu terjadi. Sembari berdoa, ada malaikat yang datang memecah kesuraman. Dan, jam sudah menunjukkan waktu Isya. Sepertinya doa terkabul, hati perlu kembali diistirahatkan. Menjemput panggilannya yang telah berlalu tiga sampai lima menit yang lalu.

Menemani hati-hati yang kelelahan,
Pojok Surau, 13 Januari 2015 | Pukul 19.00 WIB

Senin, 12 Januari 2015

Tanggung Jawab dan Cinta

Pernah mendengar dua istilah ini? Ambil pusing dan tidak ambil pusing. Sebenarnya dua istilah ini hanya dibedakan oleh dua kata. Yang dengan dua kata itu akan menjadikan keduanya menjadi beda makna. Entah siapa yang pertama kali menggunakan dua istilah ini. Tapi akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan dua istilah ini.
Ada yang harus aku jelaskan dari dua istilah yang telah tega membuatku sibuk. Secara subjektif, kedua istilah ini akan aku jelaskan dengan sudut pandang positif dan negatif saja. Dalam arti keduanya akan aku kaitkan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang.
Pertama yang akan aku jelaskan adalah tidak ambil pusing. Seperti pada penjelasan sebelumnya, hal ini berkaitan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang. Ada orang-orang di sekeliling kita yang memiliki tipe ini. Tidak mau ambil pusing. Orang pada tipe ini memiliki kecendrungan menyepelekan. Ini berbeda dengan berfikir sederhana. Orang yang berfikir sederhana adalah orang yang memiliki pemikiran efisien dan memiliki kecendrungan solutif. Tapi orang yang memiliki kecendrungan menyepelekan, dia lebih cendrung menganggap semua enteng, tidak solutif, dan terlalu menggantungkan semuanya pada orang lain. Benar kita adalah makhluk yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bukan berarti semua kita gantungkan kepada orang lain. Menganggap setiap orang akan dapat memaklumi semua sikap kita yang cedrung menyepelekan itu. Orang semacam ini sangat jelas tidak memiliki rasa tanggung jawab. Dan rasa cinta kepada tanggung jawabnya harus dipertanyakan. Bagaimana mungkin seorang yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta, sangat abai dan menyepelekan.
Istilah yang kedua adalah ambil pusing. Istilah ini berkebalikan dengan istilah pertama yang telah aku jelaskan. Orang yang ada pada tipe ini memang bukan hanya memiliki cara berfikir sederhana. Dia memiliki rasa tanggung jawab dan juga cinta. Saat seseorang pada tipe ini diberikan sebuah tanggung jawab, dia akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Tidak terpengaruh dengan kondisi sekelilingnya yang entah membantunya atau justru membiarkannya bekerja sendiri. Ada beberapa orang di sekeliling kita yang saat menerima bantuan justru membuatnya menjadi malas. Meski ada juga yang justru semakin bersemangat saat melihat ada banyak kepedulian. Begitu juga ada yang saat dia bekerja sendiri dan tak ada satupun yang peduli terhadapnya, dia akan menjadi bersemangat. Dia ingin menunjukkan bahwa dia tetap mampu bekerja walau hanya sendiri. Tapi ini adalah emosi yang entah berlandas cinta atau amarah. Dan saat itu ada orang yang saat dia sendiri malah menjadi tak bersemangat. Merasa kesepian hingga akhirnya dia mati. Posisi inilah yang disebut posisi netral.
Kondisi ini akan sangat dipengaruhi oleh hati yang memiliki rasa tanggung jawab dan cinta. Keduanya adalah sumber energi bagi kaki dan tangannya untuk begerak. Tidak mudah mengabaikan seberapa kecil monster yang ada di hadapannya. Tapi juga tidak terlalu merasa ketakutan saat menghadapi monster besar yang sedang dihadapinya. Cinta yang memiliki sumber yang benar akan menghasilkan energi yang besar. Sumber yang benar itu adalah Tuhan yang manciptakan rasa cinta itu. Mungkin cukup hati kita yang mengalah, merasakan rasa sakit. Sehingga tidak akan banyak hati yang dikecewakan dan disakiti. Lagipula beban di pundak sudah diukur oleh Tuhan pemilik seluruh rasa cinta.

Jumat, 09 Januari 2015

Menunggu Jawaban

Menunggu jawaban itu seperti mengharap-harap munculnya pelangi setelah hujan. Tak ada kepastian.Pun hujan yang datang hari ini tidak seperti biasanya. Dia cukup deras. Namun hujan yang deras itu datang tiba-tiba. Seperti mengerti tentang gersangnya bumi. Sehingga pelangi yang diharap-harap belum pasti kemunculannya. Mungkin pelangi sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban juga seperti menatap langit di kala malam mulai menyelimut. Mengharap bulan dan bintang menari-nari di langit. Beradu terang tak mau mengalah. Malam yang gelap menjadi cerah. Tapi itu juga belum pasti. Kadang awan gelap menutup begitu saja pentas tari. Seolah mengatakan pertunjukan telah usai. Atau malam ini pertunjukan tengah libur. Mungkin langit sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban memang membosankan. Apalagi harus menunggu tiga hari kedepan. Terbesit rasa ketidakpastian. Tapi ada harap begitu besar tertanam. Ada cinta yang harus diperjuangkan. Bagiku ini pengorbanan. Karena saat itu akan ada harapan yang patah. Entah itu harapanku atau harapan orang lain. Biarlah langit menentukan jawabannya.

Selasa, 30 Desember 2014

Saksi Hujan


Inilah hujan yang turun makin menderas malam itu. Rasanya, was-was dan harapan saling beradu. Antara kalian yang basah kuyup dan berkali-kali meneduh, juga aku yang di pelataran tak henti-hentinya mengirim do'a.

Kau tau bahwa...
Malam itu tentu menjadi cerita yang dipersaksikan hujan. Aku hanya mengharapkan barakah pun turun sederas hujan yang mengucur dari langit. Seperti do'a-do'a kita saat itu dan saat-saat sebelumnya: allahumma shayyiban naafi'an.

#RintikHujan-13 By Dey Iftinan


Hujan-hujanan dan kedinginan dalam mobil sampe otot terasa beku itu, keren...
Malam yang tak terlupakan!
InsyaAllah

Jumat, 26 Desember 2014

Sahabat; Kita yang Terus Saling Berpapasan

Mungkin istilah yang bisa aku gunakan adalah bukan "Kehilangan sahabat". Tapi kita hanya "berbeda prinsip" yang membuat kita berada di ujung jalan yang berbeda. Entah aku juga tak mengerti, apakah kita sedang berjalan menuju arah yang sama atau tidak. Hanya saja, aku selalu merasa kita hanya terus saling berpapasan. Seperti tidak sedang berjalan menuju arah yang sama.
Pada hakikatnya, bagiku kamu tetap sahabatku. Sampai kapanpun! Seperti orang yang berjalan berpapasan. Ada pada suatu titik kita memiliki persamaan yang membuat kita saling berpapasan. Dan itu cukup bagiku untuk tetap menyebutmu sahabat. Meski ada banyak titik pada suatu waktu yang membuat kita bahkan tak saling bertemu. Kita bersebrangan. Mungkin memang salahku yang kurang baik dalam menyampaikan cintaku. Apalagi sifatku yang seperti batu karang. Keras dan terlalu angkuh. Maafkan aku yang memiliki sifat itu.
Pada akhirnya aku hanya tinggal memiliki sebuah harap. Ada masa pada suatu kisah dimana kita akhirnya bisa menuju tujuan yang sama. Bisa berjalan berjajar bersama, karena kita sedang menuju arah, tujuan yang sama. Inilah harapku kepadamu sahabat. Meski aku tak ingin mengatakan kehilangan. Tapi sungguh, itulah yang aku rasakan. Kehilangan!