Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Hujan yang Menjadi Gerimis

Puas rasanya bumi dicumbui rindu oleh langit. Hujan! Dua belas jam lebih ku hitung, tanah ini basah kuyup. Kaca jendela yang mengembun. Diam-diam ku tuliskan deretan kosakata cinta disana. Terangkai manis, menjadi doa yang bisa dibaca oleh siapa saja yang menyukai hujan. Lalu ku bisikkan dalam larut ketundukan kepada Tuhan. Berharap rahmatNya turut mengiringi.
Ada fajar yang tak biasa hari ini. Langit yang masih tampak malu membuka tabirnya. Hujan yang menjadi gerimis. Ada rindu seperti hujan yang tadi turut terpanjatkan ke langit. Ku bisikkan lamat-lamat berharap itu sampai di tujuan. Seperti rindunya langit kepada bumi.

Selasa, 30 Desember 2014

Saksi Hujan


Inilah hujan yang turun makin menderas malam itu. Rasanya, was-was dan harapan saling beradu. Antara kalian yang basah kuyup dan berkali-kali meneduh, juga aku yang di pelataran tak henti-hentinya mengirim do'a.

Kau tau bahwa...
Malam itu tentu menjadi cerita yang dipersaksikan hujan. Aku hanya mengharapkan barakah pun turun sederas hujan yang mengucur dari langit. Seperti do'a-do'a kita saat itu dan saat-saat sebelumnya: allahumma shayyiban naafi'an.

#RintikHujan-13 By Dey Iftinan


Hujan-hujanan dan kedinginan dalam mobil sampe otot terasa beku itu, keren...
Malam yang tak terlupakan!
InsyaAllah

Sabtu, 06 Desember 2014

Dunia Hujan

Selamat datang di duniaku. Dunia yang sejauh mata memandang hanya akan melihat rintik hujan. Tak akan kamu temukan mentari pagi. Kamu juga takkan melihat rembulan dan bintang-bintang saat malam menjelang. Di duniaku ini kamu hanya akan menemukan payung penuh warna-warna cantik. Duniaku adalah dunia rintik hujan yang akan terjadi sepanjang waktu. Kamu tak perlu khawatir akan kesepian. Karena hujan turun sepanjang waktu. Kamu akan ditemani oleh hujan.
Maaf, di duniaku kamu takkan menemukan pelangi yang penuh warna-warna cantik. Di duniaku ini kamu hanya akan menemukan warna-warna payung hujan. Karena hujan akan terjadi sepanjang waktu. Baik hujan rintik, hujan sedang, bahkan hujan deras berhiaskan petir yang menyambar-nyambar. Sehingga kamu membutuhkan payung. Dan tentunya di duniaku ini amatlah dingin. Kamu perlu menggunakan jas hujan tebal.
Hidup di duniaku hanya akan melakukan dua hal. Bermain hujan penuh keriangan atau hanya duduk menyendiri di balik jendela kamar. Menggambar orang-orangan menggunakan payung dan jas hujan sambil bergandengan tangan. Kamu juga bisa menggambar lukisan jendela berupa rintik-rintik hujan. Hanya itu yang bisa kamu gambar di duniaku. Karena dari balik jendela kamu hanya akan melihat hujan, orang kehujanan, dan payung-payung hujan. Hanya itu saja. Dan inilah duniaku. Dunia hujan!


Senin, 01 Desember 2014

Kisah Hujan


Lagi-lagi tentang hujan. Dan dalam hujan, selalu ada warna yang ingin aku kisahkan. Kali ini aku ingin berkisah tentang jingga. Kamu tahu? Sore ini tak ada jingga. Meski tak ada jingga, hujan telah berkisah dari sejak malam tadi sampai sore ini.
Malam tadi, 29 November. Aku menikmati malam di Jalan Malioboro. Bukan tanpa alasan aku ada di sana saat itu. Aku baru saja dari Rumah Sakit. Ada kisah cinta malam itu. Laskar 9 akan segera punya ponakan baru. Lebih tepatnya saudara kami akan memiliki seorang bayi. Sudah sejak sore hari dia di Rumah Sakit. Tapi malam itu aku memutuskan untuk pulang dari Rumah Sakit. Dengan jalan kaki!
Langkah demi langkah aku tapaki sepanjang Jalan Malioboro. Dalam perjalanan pulang itu aku menemukan banyak kisah di pinggir jalan. Para seniman malam. Mengisi kekosongan dinginnya malam yang diguyur hujan tadi. Dan malam itu akhirnya aku tutup dengan guyuran hujan lebat. Basah semua, dingin tapi aku menikmatinya. Akhirnya aku bisa menikmati malam di Jogja lebih lama dari biasanya, dengan guyuran hujan lebat.
Kisah hujan berlanjut, 30 November. Hari ini, hujan! Berkisah seorang lelaki paruh baya padaku siang tadi. Lagi-lagi tentang kisah hujan. Hujan turun dari sore sampai pagi. Dan siang hujan rintik kecil sampai sore lalu hujan lagi. Padahal hari ini adalah hari istimewa bagi kakak perempuanku. Lebih tepatnya kakak tingkat satu jurusan denganku di kampus. Dia menikah hari ini. Oya dia juga adalah kakak perempuan (kali ini kandung) dari saudaraku di Laskar 9. Romantis bukan? Ada cinta di barisan perjalanan pagi sampai sore ini. Tunggu saja warna yang akan aku kisahkan dalam barisan tulisan selanjutnya.
November dipenuhi kisah hujan. Kisah hujan yang berlanjut sampai akhir November malam ini.
Hujan juga telah mengisahkan hadirnya jas hujan yang dipakai saudariku di Laskar 9. Model terbaru kata temanku. Jas hujan itu berwarna biru. Nampaknya warna kesukaannya. Lalu aku berujar pada teman lamaku itu. "Seperti kamu telah lama hidup di hutan." Teman yang sudah sangat lama tak bercengkrama, saling ejek khas kami dulu. Adikku meledek kepada kami. Kalian itu sedang sama-sama rindu. Mungkin saja kataku dalam hati. Nyatanya itu adalah pertemuan yang cukup panjang di antara kami setelah dua tahun terakhir kami tak ada komunikasi.
Sore di November ini. Tibalah sebuah pesan singkat dari seseorang yang sejak kemarin (29 November) ada di Rumah Sakit menemani istrinya tercinta. Boy, belikan aku madu untuk istriku. Istriku melahirkan. Sangat singkat dan sangat mengejutkanku. Tapi aku benar-benar bahagia. Aku punya "ponakan" baru. Laskar 9 punya ponakan baru. Akhirnya, lengkaplah kisah tentang hujan di November ini. Kisah hujan tanpa warna jingga di akhir November ini.

#Ra

Sabtu, 29 November 2014

Harapan Hujan


Ada kisah indah saat hujan berakhir. Kisah tentang pelangi. Tentang warna biru yang menenangkan. Kisah tentang hijau yang menyejukkan. Merah yang berkisah tentang amarah. Dan tentang jingga yang menyimpan banyak kenangan. Mungkin aku juga adalah pecinta hujan. Yang menantikan kisah indah di akhirnya.
Sayangnya tak semua hujan berakhir dengan pelangi. Kadang hujan harus berakhir dengan mendung gelap. Berselimutkan udara dingin yang mencekam. Hujan berakhir kegelisahan. Tiap tetes hujan bercerita tentang penyesalan. Meski hujan telah berakhir tapi ternyata mendung belum berakhir.
Namun ada hal yang harus kita percayai tentang hujan. Dalam hujan selalu ada harapan. Mereka yang mencintai hujan berharap akan ada pelangi di akhirnya. Setidaknya hujan tidak berakhir dengan mendung gelap. Dalam hujan selalu ada harapan. Tentang pelangi yang mengisahkan banyak warna. Mereka berpadu serasi menciptakan pelangi cantik yang terlukis di langit. Menjadikan senja tak hanya jingga. Ada warna pelangi saat langit senja. Setidaknya kita bisa mempercayai itu. Bahwa akhir dari hujan adalah kisah tentang pelangi. Yang menjadikan senja tak hanya jingga.

#Ra

Hujan Tanda Cinta


Perlahan rintik hujan jatuh dari atap genting. Meski hujan daras mengucur dari langit. Tak menjadikan genting pecah berantakan. Inilah cinta Allah kepada makhluknya. Dia tak jatuhkan air seperti air yang jatuh dari gayung. Mungkin genting-genting tak kuat menahannya. Pepohonan kan tumbang diterpanya. Banjir dimana-mana. Karena tak mampu tanah menyerapnya.
Air hujan turun menjadi rintik. Menjadi indah saat dipandang. Tetes demi tetes menerpa dedaunan pohon. Ada keterpaduan disana. Hujan rintik ini akan memberikan pesan cintanya di akhir episode. Sebuah pelangi. Tanda cinta dari yang Maha cinta

#Ra

Selasa, 11 November 2014

Hujan di Balik Jendela

Aku suka hujan, dia menyejukkan. Dia membawa kehidupan di dunia, tapi hujan juga membawa dingin. Menjadikan jendela kaca berembun. Semakin menjelaskan makna kesendirian. Sendiri di balik jendela kamar, menikmati hujan. Menuliskan nama di balik jendela kamar yang berembun.

Aku suka hujan, karena dia membawa kesejukan. Melunakkan tanah yang kering karena kemarau panjang. Tanah yang berhamburan diterpa angin, menjadi debu, rapuh. Membutuhkan waktu yang lama untuk menyatukannya menjadi tanah. Tapi hujan, tiap tetesnya manyatukan. Merekatkan debu-debu yang berhamburan diterpa angin. Hujan membuat tanah yang kering menjadi dapat ditanami bunga-bunga yang cantik. Di balik jendela kamar aku melihat kelopak bunga membelai tetes-tetes hujan, serasi.

Aku suka hujan, dia menenangkan. Andai saat ini aku dapat menikmati hujan bersamamu. Seseorang yang menjadi rahasia Allah, yang akan datang seperti hujan, rahasia. Seseorang yang akan datang di waktu yang tepat. Menenangkan hati yang sendiri. Di balik jendela kamar aku menjadi tak sendiri, berdua kita dapat menikmati hujan. Menuliskan nama di jendela kamar yang berembun, bahagia.

#Ra