Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Desember 2021

FILSAFAT "OLAH PIKIR"

Refleksi Perkuliahan Pertama Filsafat Ilmu Prof. Dr. Marsigit, M.A. 28 Oktober 2021 Via Zoom Meeting


Filsafat itu lebih dari sekedar ilmu-ilmu bidang, tetapi tidak melampaui spiritualitas, namun dia hanya mendekati. Daya tembuh menuju spiritualitas itu tergantung dari diri kita, kemampaun, kepiawaian, ilmunya, dan pengalaman diri seseorang dalam berfilsafat.

Filsafat adalah olah pikir yang dilakukan oleh manusia sebagai makhluk Allah yang diberikan kemampuan oleh Allah sebagai pencipta untuk dapat berfikir. Namun sehebat-hebatnya manusia berfikir, pikiran itu tetaplah menjadi sebuah pikiran. Agar olah pikir kita dalam berfilsafat tidak tersesat dan tetap dalam koridor yang sesuai, maka ada tata cara atau hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjadi paradigmanya.

Pertama, bahwa filsafat itu adalah olah pikir dengan segala macam kosekuensinya. Kosekuensi yang perlu diperhatikan bahwa pikiran kita itu bersifat terbatas. Allah subhanahu wata’ala memberikan karunia kepada manusia berupa akal pikiran yang merupakan suatu kelebihan yang diberikan kepada manusia dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Dengan akal pikiran tersebut, manusia dapat berfikir dan mengaplikasikannya dalam sebuah kehidupan untuk membuat hal-hal yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Namun, tentu saja segala yang dimiliki manusia di dunia itu memiliki keterbatasan termasuk akal manusia. Ada Batasan-batasan yang tidak bisa dan tidak boleh dilewati. Meskipun Islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, namun tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal manusia. Dalam hal ini Islam memberikan Batasan ruang lingkup terhadap akal sesuai kadar kemampuannya untuk melakukan olah pikir. Sebab akal terbatas jangkauannya, tidak mungkin untuk menjangkau hakikat segala sesuatu. Maka islam menundukkan akal terhadap wahyu Allah dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam.

Kedua, belajar berfilsafat harus berlandaskan kepada spiritualitas. Di dalam kerangka spiritualitas, dan menuju ke spiritualitas. Sehingga dalam berfilsafat kita selalu awali dengan berdoa, dalam doa dan menuju doa. Dan berfilsafat itu selalu dalam rangka untuk mendapatkan keberkahan manfaat atas olah pikir yang dilakukan untuk menggapai ridho Allah Subhanahu wata’ala. Ini adalah prinsip dalam berfilsafat. Maka olah pikir yang kita lakukan, jika kita padukan antara point pertama dan kedua ini olah pikir kita adalah olah pikir yang tetap dalam kerangka norma-norma agama, atau tidak dalam rangka untuk melampaui norma-norma agama. Jangan sampai olah pikir kita justru menjadi tidak terkendali, karena dalam berfilsafat itu tergantung dari filsuf dan orangnya. Jika kita dalam berfilsafat sudah muali menemukan titik jenuh atau dalam arti sampai pada tahap dimana sebuah pertanyaan tidak perlu untuk dijawab. Maka berhentilah. Beristighfar dan mohon ampun kepada Allah. Tidak perlu untuk dipaksakan hingga kita justru terjerumus dalam penyimpangan terhadap norma agama.

Selanjutnya terkait dengan sumber bacaan dalam berfilsafat, yaitu apa saja, dengan syarat. Pertama, jangan sampai sumber bacaan tersebut menurunkan kadar keimanan kita kepada Allah. Dan yang kedua, jangan sampai sumber bacaan itu mengandung unsur pengkhiyanatan terhadap negara. Seperti merubah dasar negara atau pemberontakan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika kita justru menemukan buku-buku atau sebuah referensi yang mengarah kepada hal tersebut, tinggalkan tidak perlu dibaca. Lebih baik fokus terhadap hakikat filsafat, yaitu olah pikir untuk menggapai kebermanfaatan.

Berikutnya mengenai objek filsafat. Objek filsafat ini bertingkat-tingkat, dimana objek yang paling dasar atau yang bersifat ontologis adalah yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian ditingkatkan lagi kepada level yang kemudian lebih formal, yaitu objek formal dan material. Objek formal itu adalah wadahnya dan objek material adalah isinya.

Kemuduian, alat yang digunakan untuk berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog yang dimaksud adalah analogi, analogi keadaan, analogi dunia, analogi situasi. Hal ini lebih tinggi dari perumpamaan atau persamaan. Contoh, kita menganalogikan pikiran kita dengan dunia. Misalnya kita katakana bahwa pikiran kita adalah sama dengan dunia, maka itu tidaklah tepat. Tetapi jika kita katakana bahwa pikiran kita analog dengan dunia, itu lebih tepat. Mengapa? Karena kita tidak bisa memikirkan dunia tanpa kita pikirkan. Misalnya saja kita berfikir tentang kota-kota, kitab isa memikirkan kota Tokyo, New York, atau kutub selatan tanpa kita harus berada disana atau menuju ke tempat tersebut. Karena di dalam pikiran kita terdapat nama kota atau tempat tersebut. Kita juga bisa mengatakan bahwa hati kita itu analog dengan spiritualitas. Jika dikatakan doa atau spiritualitas, maka peganglah dada kita, hati kita. Disana terdapat keimanan, hati yang tunduk dan bergetar karena takut kepada Allah untuk mengharapkan keridhoan Allah, mengharapkan kasih dan sayang Allah. Itulah sebabnya terkadang filsafat dianggap sulit, karena objeknya meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada.

Pembahasan selanjutnya adalah tentang metode berfilsafat. Metode berfilsafat itu ada dua, yaitu intensif dan ekstensif. Intensif itu di dalamkan, tapi karena kita sedang berfilsafat, maka mengandung maksud ditinggikan. Kemudian ekstensif itu diperluas seluas-seluasnya. Itulah sebabnya dengan cara didalamkan, maka dalam berfulsafat itu mencapai pada radikal. Radik itu akar. Maksudnya berfilsafat sampain pada sesuatu yang sudah tidak bisa digali lagi.

Kemduian pilar filsafat, yaitu hakikat, metode, dan manfaat. Hakikat adalah ontologi, metode adalah epistemology, dan manfaat adalah aksiologi. Namun jika dibalik, ontologi tidak semata-mata hakikat, espistemologi tidak semata-mata metode, dan aksiologi tidak semata-mata manfaat. Sebab, aksiologi juga ada dua, yaitu etik dan estetika.

Objek formal ontologi adalah hakekat realitas. Bagi pendekatan kuantitatif marematik realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah; telaanya akan menjadi monisme, paralelisme, atau pluralisme. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealsme, naturalisme, dan phylomorphisme.

Ontologi (Yunani) yaitu berasal dari kata kata on, ontos, yang artinya ada, kebenaran sedangkan logos adalah studi atau ilmu pengetahuan. Sehingga secara kata dapat diartikan sebagai cabang ilmu filsafat yang menyelidiki apa yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan, Ontologi menurut A. Susanto (2019) membicarakan azaz-azaz rasional dari yang ada. ontologi berusaha mengetahui esensi yang terdalam dari yang ada. Selain itu dijelaskan juga bahwa ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal usul alam semesta, dari mana dan kea rah mana proses kejadiannya.

A. Susanto (2019) juga menerangkan bahwa epistemologi adalah cabang ilmu filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode dan sahnya pengetahuan. secara singkat, epistemologi dapat diartikan sebagai cara kita untuk mengetahui sesuatu. Epistimologi yang juga disebut teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan penyelidikan keshahihan pengetahuan. A. Susanto (2019) juga menerangkan tentang aksiologi. Dimana aksiologi diartikan sebagai suatu pemikiran tentang masalah-masalah nilai, termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. misalnya nilai moral, nilai agama, dan keindahan atau estetika.

Filsafat merupakan suatu fenomena yang inferensial, yaitu pikiran yang berjalan. Maksudnya berjalan itu adalah yang diucapkan dan ditulis.  Berjalan dalam apa? Berjalan dalam ruang dan waktu, dari dulu, sekarang dan yang akan datang. Aliran dalam filsafat itu seperti sungai, ada sumber airnya, ada muaranya dan cabang-cabangnya. Setiap muara ada penjaganya, yaitu para filsuf, karena para filsuf memiliki pikiran, yaitu pikiran para filsuf.

Apa muara sungai? Yaitu kehidupan kita. Kehidupan kit aitu seperti lautan yang setiap hari mendapatkan inferensi-inferensi yang mengalir begitu saja seperti aliran sungai. Sungai itu terdapat sumbernta ada gunungnya. Gunung ini adalah ilmu. Dimanapun khususnya di Indonesia khususnya di jawa, maka gunung digambarkan sebagai sebuah ilmu. Tidak hanya itu, dalam perwayangan, gunung melambangkan kehidupan. Maka gunung-gunung menjadi sumber mata air dari para filsuf. Maka di awal dan di akhir, definisi filsafat itu berbeda. Di awal definisi filsafat adalah olah pikir. Sedangkan di akhir ini, filsafat adalah pikiran para filsuf. Tidak ada filsafat tanpa mereview pikiran para filsuf.

Maka pada saat ini filsafat adalah diri kita masing-masing. Artinya, barang siapa berfikir, dia sedang berfilsafat. Apakah setiap pikiran itu berfilsafat? Dikatakan berfilsafat jika pikiran itu adalah pikiran reflektif. Pikiran reflektif itu harus memenuhi unsur pertanyaan mengapa, apa, dan bagaimana. Maka dalam berfilsafat dan bahkan semua ilmu, dimulai dengan pertanyaan. Namun ada ilmu yang tidak membutuhkan pertanyaan, yaitu ilmu spiritualitas yang ada di dalam hati yang dimulai dengan keyakinan, ia adalah keimanan. Keimana kepada Allah subhanahu wata’ala.

Apakah setiap pertanyaan bisa dijawab? Jawabannya tentu saja tidak. Tidak setiap perkara bisa ditanya, tidak setiap pertanyaan bisa dijawab. Misalnya saja urusan rumah tangga seseorang. Jadi dalam berfilsafat itu tidak boleh sembarang. Ada kendala atau penyakit dalam berfilsafat, Pertama, jika dalam belajar filsafat kita itu sepenggal-penggal. Akhirnya dalam melakukan olah pikir, kita akan mengarah kepada penyimpangan yang justru tidak memperoleh manfaat dari berfilsafat. Kedua, jika berfilsafat salah dalam menempatkan ruang dan waktu. Misalnya kita berfilsafat dengan anak-anak. Tentu ini salah sasaran, tidak tepat. Namun jika kita berbicara dengan anak-anak buah dari pada filsafat. Maka hal ini bisa disampaikan, seperti misalnya kebenaran pikiran dan kebijakan dalam pikiran. Ini adalah buah dari berfilsafat.

Sebenar-benar filsafat adalah penjelasannya Ada dua macam ilmu dalam menjelaskan filsafat, yang pertama adalah ilmu rasio (logika) dan yang kedua adalah pengalaman (kenyataan yang dialami). Jadi sebenar-benarnya ilmu dalam filsafat adalah gabungan antara pengalaman dan logika.

 

Sekian dan terima kasih atas kesempatan belajar dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Semoga pemahaman yang professor berikan dapat memberikan hikmah kepada kami untuk selanjutnya dapat kami aplikasikan dalam belajar dan mengajar.

 

Sumber lainnya:

A. Susanto. 2019. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta. PT Bumi Aksara.

Kamis, 28 Oktober 2021

SEBUAH REFLEKSI, PERTENTANGAN PARA FILSUF YANG MELAHIRKAN SUATU KEMUNAFIKAN

Pengetahuan kita didasarkan pengalaman, dari satu fenomena ke fenomena berikutnya. Sehingga karena pengalaman inilah muncul empirisme. Omong kosong, nonsense, seseorang yang belajar filsafat tanpa belajar tokohnya.

Herakleitos adalah filsuf Yunani berpendapat bahwa segala sesuatu itu berubah. Berbeda dengan Herakleitos, Parmenides yang juga filsuf Yunani yang lebih muda dan banyak menentang karya-karya dari Herakleitos, Parmenides adalah seorang filsuf yang berpendapat bahwa segala sesuatu bersifat tetap. Jika kita melihat diri seseorang, kita akan melihat apa yang tetap dan apa yang berubah pada dirinya.

Misalnya adalah latar belakang seseorang, itu bersifat tetap atau bagi say aini juga disebut takdir. Sebab latar belakang adalah hal yang tetap. Namun seseorang juga akan mengalami perubahan, bertumbuh, sebab seseorang berjalan dari satu fenomena ke fenomena lainnya, bertambahlah pengetahuannya. Tidak ada sesuatu yang tidak mengalami perubahan di dunia ini.

Hidup di dunia itu kontradiksi, sedangkan pikiran bersifat identitas. Karena terikat ruang dan waktu, maka muncul persamaan A ≠ A. Yang artinya tidak ada satupun di dunia ini yang benar-benar sama, meski itu adalah dua orang bayi yang lahir dari rahim ibu yang sama. Dua bayi yang dikatakan kembar itu, secara kontradiksi mereka sesungguhnya berbeda. Persamaan mereka hanya ada dalam pikiran kita, yang mengatakan bahwa dua bayi itu kembar atau sama. Meski sesunggunya mereka adalah dua insan yang berbeda. Ketidak mampuan pikiran kita dalam membedakan dua bayi yang sesungguhnya berbeda inilah yang menunjukkan bahwa sesungguhnya manusia tidaklah sempurna. Dan ketidak sempurnaan inilah yang menyebabkan manusia bisa hidup.

Seseorang yang mempercai Tuhan itu esa, ia berarti menganut filsafat monotisme. Sedangkan yang berpendapat Tuhan itu jamak, makai a menganut filsafat pluralism. Dan yang mempercayai dia menganut dualism. Nah, Pancasila adalah monodualisme. Mono, percaya kepada yang Esa, dualism, antara Tuhan dan manusia, yaitu habluminallah dan habluminannas.

Kemudian muncul persoalan isme-isme lainnya, dan muncul seorang tokoh Bernama Immanuel kant. Namun sebelumnya juga muncul filsafat rasionalisme dengan tokoh Rene Descartes, dan skeptisisme, yang juga sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Kemudian mendapatkan pertentangan dari empirisesme, David Hume. R. Descartes menjadi seorang skeptisisme sebab ia seorang pemikir yang menjumpai sesuai yang fenomenologis. Sampai-sampai R. Descartes tidak bisa membedakan, bahkan sampai ingin memastikan keberadaan Tuhan sehingga ia meragukan keberadaan Tuhan. Keraguan itu muncul sebab Ia menemukan keberadaan Tuhan dalam kenyataan maupun di dalam alam mimpinya. Ia tidak mampu dimana yang kenyataan dan alam mimpi. Sampai ia dapat menemukan satu kunci, yaitu “aku bertanya”. “Aku tidak sedang bermimpi, karena aku sedang berfikir.” Cogitu Ergo Sum.

Aku ada karena aku berfikir. Jadi sebenar-benarnya ilmu, haruslah berdasarkan pada rasio, pada pikiran. Maka jika sesuatu yang tidaik berdasarkan pikiran, maka sesuatu itu bukan ilmu. Hal ini tentu bertentangan dengan David Hume. Seseorang yang berfikir sekeras apapun, jika tidak memiliki pengalaman, makai a belum dikatakan berilmu. Maka ilmu itu harus didasarkan pada pengalaman.

Maka muncullah Immanuel kant yang menengahi dua pertentangan tersebut. Menurut Immanuel kant ilmu itu adalah perkawinan antara sintetik dan apriori. Disinilah muncul zaman modern yang muncul sebab adanya pertentangan Rene Descartes dan David Hume.

Seirinag berjalannya waktu, maka muncullah tokoh bernama Auguste Comte. Dimana ia menurutnya, agama tidak bisa digunakan untuk membabngun dunia, sebab itu semua tidak logis. Agama atau spiritualitas berada pada posisi paling bawah dalam proses pembangunan sebuah negara. Sehingga jika dirunutkan berdasarkan prioritas dalam pembangunan agama secara berturut-turut, agama berada pada paling bawah, di atasnya metafisik, dan barulah metode positif. Posisi agama berada pada paling bawah sebab agama dianggap tidak logis.

Bagaimana dengan kita sebagai seorang umat beragama?

Mungkin kita jauh lebih dari Auguste Comte dalam hal memposisikan agama. Comte, hanya pada tataran teori. Sedangkan kita sebagai umat yang beragama, tak jarang meletakkan posisi agama pada sisi yang tidak prioritas. Telat sholat, bermalas-malasan datang beribadah, sibuk main game, sehingga lalai pada agamanya. Kemajuan teknologi ternyata secara negative justru melahirkan kemunafikan. Juga kadang kita sibuk bekerja hingga lalai dalam beribadah. Menomor duakan urusan ibadah, padahal kita mengharap pertolongan Allah. Suatu kemunafikan, hipokrit.

Terima kasih prof atas ilmunya. Mendapatkan tambahan informasi tentang rentetan pertentangan para filsuf yang ternyata melahirkan zaman yang dikatakan modern ini. Menarik tentang sebenarnya pertentangan antara Rene Descartes dengan David Hume. Meski keduanya dalam posisi yang kurang tepat jika melihat dari sudut pandang Immanuel kant. Nyatanya, dalam kondisi empiris, dua pertentangan tentang antara sintetik dengan apriori, sering terjadi. Yang merasa berpengalaman, merasa sudah unggul dengan ilmu yang mereka miliki, begitu juga sebaliknya, mereka yang memperoleh pengetahuan dari proses berfikir, merasa lebih unggul.

REFLEKSI, “Filsafat Bagian 1, by Marsigit, Thuersday 17 Okt 2019”

Senin, 27 Oktober 2014

Manusia dan Beban di Pundaknya #2

Manusia dan beban di pundaknya. Menggambarkan bahwa setiap manusia pasti memiliki beban hidup. Manusia tidak akan lepas begitu saja dari ujian, sebagaimana Allah wahyukan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur'an. "Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS Al-Mulk: 2). Atau dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 35 Allah berfirman, "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan" (QS Al-Anbiya': 35).
Ujian yang Allah berikan kepada manusia pada hakikatnya telah tertulis di dalam Lauh Mahfuz bahkan sebelum dia terlahir di dunia ini. Keberadaan ujian ini semata-mata agar jelas siapa hamba-hamba Allah yang munafik dan siapa hamba-hamba Allah yang benar-benar beriman. Pemahaman seperti ini tentu didapat saat manusia menggunakan akalnya untuk berfikir. Tidak hanya mengeluh bahkan menyalahkan Allah atas ujian yang didapatnya. Sehingga ujian yang akan dipikul oleh pundak tak jadi persoalan karena dia mampu berfikir dengan baik. Akalnya membimbingnya dengan cahaya, sehingga dia mampu menemukan cahaya dari jalan gelap yang dia lalui di sepanjang perjalanan.
Ruh atau jiwa. Mengutip yang disampaikan oleh Ibn Sina, "Nafs (jiwa) dalam jasad itu bagaikan burung yang terkurung dalam sangkar, merindukan kebebasannya di alam lepas, menyatu kembali dengan alam ruhani, yaitu alam asalnya. Setiap kali ia mengingat alam asalnya, ia pun menangis karena rindu ingin kembali."
Ibn Sina memberikan gambaran yang sangat terang tentang jiwa manusia. Hakikatnya ruh yang ada dalam jasad manusia ini sedang tak berada di alamnya yaitu alam ruh. Jiwa akan menangis manakala dia merasa ridu dengan alamnya. Seperti halnya Rasulullah dan para sahabat yang merasa rindu dengan kota kelahirannya Mekah saat hijrah ke Madinah. Itulah ruh atau jiwa. Dia membutuhkan satu obat yang akan memberikannya hidup dan tidak merasa asing saat berada dalam jasad manusia. Dia adalah Al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an, "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS Al-Isra': 82).
Al-Qur'an adalah obat bagi jiwa-jiwa yang beriman. Saat ruh merasakan kerinduan kepada kampung akhirat maka Al-Qur'an akan dapat memberinya ketenangan, sebagaimana Allah telah memberikan keterangan dalam ayat Al-Qur'an di atas.
Beban atau ujian yang diemban oleh manusia pada dasarnya tidak hanya dipikul secara fisik oleh jasad ini. Seperti halnya akal yang telah terang oleh cahaya ilmu, maka ruh yang telah diterangi oleh cahaya Al-Qur'an akan mampu memberikan kekuatan kepada ruh. "Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram." (QS Ar-Ra'd: 28). Ibnul Qayyim dalam Tafsir Al-Qayyim menyebutkan bahwa "Pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat Al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan Al-Qur'an." Ketentraman atas mengingat Allah inilah yang akan memberikan energi kepada manusia. Sehingga dia tidak menjadi manusia yang mudah mengeluh atas beban yang dia dapatkan dalam perjalanan hidupnya. Jauh dari Al-Qur'an hanya akan membuat manusia seperti mayat hidup. Jasadnya hidup tapi ruhnya mati karena hati yang jauh dari Al-Qur'an, yang seharusnya menjadi obat penawar bagi ruh yang rindu dengan kampung akhirat.
Jiwa-jiwa yang senantiasa berdzikir, mengingat Allah, niscahya hatinya akan terang-benderang. Hatinya akan dipenuhi energi ruhani yang semakin menguatkan keimanannya. Allah akan merengkuh hati-hati yang senantiasa mengingat Allah. Pada akhirnya pundak akan kokoh, kaki akan tegak, dan hati akan penuh dengan rahmat. Dzikir Al-Qur'an ini adalah suplemen pokok dari ruh. Tak hanya itu, tapi aktivitas mengingat Allah yang lain juga akan memberikan energi kepadanya. Manusia akan senantiasa tenang tidak mengalami kerancuan dalam aktivitasnya, karena hatinya mendapatkan bimbingan dari Allah.
Kembali kepada pembahasan di awal, bahwa manusia adalah manusia. Dia terdiri dari tiga pilar penopang yang menjadikannya manusia, yaitu akal, ruh atau jiwa, dan jasad. Maka dua pembahasan mengenai akal dan ruh telah diuraikan. Semoga mampu memberikan cahaya ilmu bagi para manusia yang bertebaran di bumi Allah ini dan hendak kembali keharibaan Allah. Pada catatan ini, tak banyak yang aku sampaikan karena atas keterbatasan ilmu. Aku mohon ampun kepada Allah jika banyak kekurangan dalam penulisannya dan semoga Allah mengampuniku. Tak lupa juga aku memohon maaf kepada para pembaca atas kekurangan ini.
Mengenai jasad, sebenarnya aku meyakini bahwa telah banyak kita memahami betapa kesehatan jasad akan sangat penting dalam menjalankan aktivitas di bumi ini. Dalam kesempatan tulisan "Manusia dan Beban di Pundaknya" akan aku tulis dalam part 3. Semoga Allah memberikan kekuatan agar mampu melanjutkannya di tulisan selanjutnya.

Minggu, 26 Oktober 2014

Manusia dan Beban di Pundaknya #1

Manusia adalah makhluk yang tumbuh. Manusia memiliki tiga pilar yang menopang dan menjadikannya sebagai manusia yang hidup. Ketika manusia tumbuh, ketiganya juga mengalami proses tumbuh itu. Ketiganyalah yang kemudian menjadikan manusia memiliki kapasitas yang kemudian keberadaannya akan sangat diperhitungkan. Kapastias inilah yang akan menjaga eksistensinya sebagai manusia dalam menjalankan aktivitasnya sebagai manusia di bumi. Menjadi hamba Allah dan melaksanakan tatanan kehidupan sesuai dengan petunjuk yang ada dalam aturan yang Allah wahyukan kepada hambaNya yang mulia, Nabi Muhammad Saw.
Manusia adalah manusia dengan segala macam potensi dan kekurangannya. Tiga pilar pembentuknya itulah yang kemudian akan membantunya menjalani aktivitasnya sebagai manusia. Memikul beban dengan pundaknya tapi karena dia adalah manusia yang memiliki tiga pilar pembentuknya, maka dia akan bertindak layaknya manusia; bekerja dengan cara-cara manusia. Tidak seperti superman yang memikul bebannya sendiri. Karena kita bukanlah superman dan kita hanyalah seorang manusia biasa, maka kita akan memikul beban itu layaknya manusia. Tiga pilar penopang manusia itu adalah akal, ruh, dan jasad yang semoga dengan rahmat Allah, aku dapat memberikan gambaran ketiganya dalam menopang manusia.
Akal adalah nikmat besar yang Allah titipkan kepada manusia. Nikmat yang disebut hadiah ini menunjukkan kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Oleh karenanya dalam banyak ayat Allah memberikan spirit kepada manusia untuk menggunakan akalnya. Misalnya dalam Al-Qur'an surat Ar-Ra'ad ayat 4 ini, "Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir." (QS Ar-Ra'd: 4). Manusia yang berfikir dia mengetahui potensi dan kelemahannya sekaligus. Keberadaan akal akan membantu manusia berfikir. Sehingga dia mampu bertindak dengan nalar-nalar kemanusiaannya dan tidak menjadikannya bersikap berlebih-lebihan, yang pada akhirnya justru membuatnya kepayahan.
Manusia yang cendrung mengabaikan akal pada akhirnya dia akan menjadi jumud. Akalnya bebal dan hal ini adalah sesuatu yang tidak Allah sukai. "Dan mereka berkata: 'Kalaulah kami dahulu mendengar dan memahami (sebagai orang yang mencari kebenaran), tentulah kami tidak termasuk dalam kalangan ahli neraka'." (QS Al-Mulk: 10). Sangat keras peringatan Allah ini dalam Al-Qur'an. Akal manusia inilah yang kemudian menjadikannya bertumbuh. Manusia akan berfikir bagaimana dia bertahan dari berbagai ujian yang Allah berikan kepadanya. Tak menganggap ujian ini remeh tapi juga tak menjadikannya terlampau berat. Karena dia dapat berfikir untuk mengenali dan peka bahwa ujian ini hakikatnya adalah hal lumrah yang akan dia temui. Dia juga akan dapat berfikir jernih tentang keberadaan Allah yang memberinya ujian agar dia menjadi seutuhnya manusia. Dan beban itu pasti akan selalu mampu dipikul oleh pundak, karena ujian itu adalah pemberian dari Allah. Kejernihan berfikir ini tentunya karena dia menggunakan akalnya. Membekalinya dengan ilmu yang akan membimbingnya dalam memikul beban di atas pundaknya.

Rabu, 17 September 2014

Becik Ketitik Olo Ketoro

Becik ketitik olo ketoro
Menata hati itu penting ternyata. Banyak yang di pandang mata, terdengar oleh telinga, dan terbaca oleh bibir ini, membuat hati mengeras. Ketidaksepakatan pada satu hal, membuncahkan hati, memunculkan banyak amarah pada kata yang terucap dan kata yang tertulis, menjadi suara minor yang tidak elitis. Sesekali bahkan terlihat menjijikan dan memuakan. Bisa dibaca juga kata-kata yang tertulis pada tulisan ini. Mungkin ada kata-kata yang tak elitis itu. Aku meminta maaf atas hal itu.
Elitis, hanya sebuah istilah yang aku gunakan pada opiniku ini. Menterjemahkan ide dalam sebuah kalimat yang mendidik dan menunjukkan sisi hormat kedapa siapapun pembaca atau yang mendengarkannya. Elitis ini yang aku maksud, terlepas makna sebenarnya dalam KBBI atau kamus semacamnya. Hanya saja aku sedang sedikit mengoreksi diriku pribadi.
Becik ketitik olo ketoro. Adalah kata elegan yang bagiku cukup untuk melunakkan hati yang mengeras atas pembelaan dan cacian membabibuta yang bisa kita simak di banyak medsos. Baik yang pada dasarnya menggunakan kata-kata yang elitis sampai yang menggunakan kata sindiran menyakitkan dan hinaan tanpa pandang bulu. Tanpa kita hina pun, sesungguhnya keburukan itu akan muncul dengan sendirinya, bahkan sampai diumbar begitu saja. Tapi lihatlah, banyak yang tak menyadari, bahkan dianataranya menutup mata. Pun tanpa kita bela habis-habisan, sebenarnya yang baik pasti akan nampak. Meski jika kata beberapa orang yang bertukar pendapat denganku mengatakan, ini adalah zaman dimana citra bisa naik dan turun karena uang. Bisa jadi.
Hati. Dia tidak akan pernah menipu. Dia selalu berkata jujur pada diri ini. Hanya, mungkin mata hati telah tertutup karena bebal yang diakibatkan oleh ujubnya hati. Tak berkahnya ikhtiar manusiawi yang dilakukan. Sehingga Allah membiarkannya dalam ketersesatannya di dunia. Memberikan banyak waktu, bukan untuk menjadikan manusia itu menyadari ketersesatannya, justru waktu itu adalah untuk semakin menenggelamkannya dalam hutan belantara yang gelap dan buas. Seperti yang baru saja aku renungi dari QS Ali Imran: 178 "...Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan."
Bencilah sekedarnya saja, barangkali suatu saat dia menjadi sahabatmu. Dan Cintalah sekedarnya saja, barangkali suatu saat dia menjadi musuhmu. Sangat bijak dan arif aku rasa kata-kata mutiara engkau Sahabat Ali bin Abi Thalib. Tapi satu hal penting bahwa seorang pemimpin adalah pelayan umat. Dia tidak sekedar bercibara untung rugi soal materi. Tapi keadilan, kesejahteraan, kehidupan, dan yang paling utama adalah urusan akhirat. Semoga para arif mampu menerka pesan dari banyak pesan yang tersirat dalam pementasan yang terjadi beberapa waktu terakhir ini. Tentu hanya hati yang penuh cinta, rahmat, dan rahim yang mampu menterjemahkannya dan mengintalnya dalam aktivitas hidupnya. Dialah hatinya para ahli ilmu, yang senantiasa menjaga adab terhadap Tuhannya ilmu. Dialah para murabitu, yang hatinya senantiasa terjaga untuk menjaga kehormatan jalan hidup ini.

Sabtu, 13 September 2014

Hanya Permukaan

Ada banyak hal tersembunyi di luar sana. belum dapat aku mengupasnya karena terbatasnya ilmu yang aku miliki. Nampaknya ini karena ilmu belum menjadi barang yang berharga bagiku, mungkin juga bagimu. Hanya kata-kata manis tanpa ada tradisi yang membangun. Aku hanya bisa menangkap objek yang tersurat saja. Terbatas..!!
Banyak hal menarik dan aneh di luar sana yang tak dapat aku mengerti. Mata hanya akan melihat permukaan air yang tenang tapi takkan pernah mengerti apa yang terjadi di kedalaman. Begitu banyak tekanan dan gelombang yang tak bisa dilihat di permukaan. Juga batu dan ikan yang saling berpadu. Tersembunyi..!!
Ada banyak tabir yang Allah selimutkan pada mata ini atas keompongan hati dan akal ini. Hanya mengerti sebuah botol air mineral hanya digunakan untuk air minum, tak mengerti, dia bisa kita manfaatkan untuk menjadi pot. Berkebun di sekitar rumah. Bisa juga aku menanaminya bunga cantik yang menyejukkan. Pandang mata memang selalu terbatas. Hanya melihat permukaan air bukan isi yang ada di kedalaman. Tak mengerti..!!?

Hanya sebuah coretan sederhana...

Sabtu, 12 Juli 2014

Adab; Keteladanan

Sesuatu yang tidak kita ajarkan, justru itulah yang dilihat dan terajarkan secara tak langsung pada adik didik. Itulah pentingnya keteladanan.
Abdullah bin Mubarak berkata, "Aku belajar adab selama 30 tahun, sedangkan aku belajar ilmu selama 20 tahun." Point pentingnya adalah bab keteladanan atau adab.
Maka berlakulah kaidah seperti yang dikatakan para ulama, al-adab qabla al-'ilmi.
Kurang lebih inilah nasihat Imam Malik kepada para guru dari anak-anak Khalifah Harun Ar-Rasyid, "Sebagai seorang murabbi, maka perbaikan diri adalah jalan awal untuk memberikan nasihat. Karena mata mutarabbimu akan saling terpaut dengan matamu. Apa yang engkau lihat benar adalah apa yang engkau lakukan. Sedang apa yang engkau lihat salah adalah apa yang engkau tinggalkan."

Selasa, 12 Maret 2013

Sedikit tentang Dahsyatnya Tarbiyah


Berbicara tarbiyah itu, tidak hanya sedang berbicara mengenai peningkatan tsaqofah islamiyah, tetapi lebih dari itu. Kita sedang berbicara sesuatu hal yang sangat dahsyat.


Bagaimana tidak?

Kita bisa mengenal Abu Bakar, mengapa beliau ditakuti oleh iblis?
Kata iblis, saat Abu Bakar belum masuk Islam saja, beliau tidak pernah mau menuruti kemauan Iblis. Apalagi saat masuk Islam, potensinya ini diarahkan kepada jalan yang lebih mulia. Dia menebus dua budak yang lemah secara derajat, namun menjadi kuat saat masuk Islam, tentu dengan potensi yang dahsyat. Sebut saja Bilal bin Rabbah dan Amir bin Fuhairah.

Begitu juga dengan Bilal bin Rabbah, saat masuk Islam. Sayidina yang dibebaskan oleh sayidina ini menjadi orang yang adzannya sangat dinantikan oleh Rasulullah dan para sabhabat. Suara adzannya yang sangat merdu. Dan dia menjadi muadzin kesayangan Rasulullah. Subhanallah...


Dengan ditarbiyah, potensi seseorang justru semakin dahsyat dan semakin mulia. Allah, telah mengajarkan melalui RasulNya. Bagaimana mendidik manusia untuk memunculkan potensi-potensi dahsyatnya.

Tentunya, kita tak melupakan sahabat yang lainnya. Bisa kita ingat, Umar bin Khatab. Kegarangannya, menjadi salah satu karakteriasik dari dakwah terang-teranganIslam di masa itu. Orang yang muncul menjadi kekuatan Islam. Dan kita ingat, bagaiaman perkembangan Islam di masa kepemimpinan beliau menjadi khalifah kedua. Subhanllah....

Selasa, 26 Februari 2013

Pesan Langit untuk Manusia Visioner

Pesan implisit Allah sampaikan dalam Qur'an surat Al hasyr ayat 18, tentang fokus perbaikan kita untuk turut memperhatikan masa depan.

"wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Hasyr: 18)

Surat ini secara implisit memberikan pesan kepada orang-orang yan beriman, agar tidak hanya memikirkan perbaikan untuk hari ini saja. Tetapi lebih jauh, bahwa masa depan harus diperhatikan agar kita menjadi manusia yang visioner. Tidak hanya sibuk merekonstruksi diri untuk hari ini atau besok saja. Pesan ini adalah sebuah rujukan bagi manusia visioner untuk merekonstruksi dirinya yang berjangka panjang dan penuh perhitungan.

Satu manusia visioner yang takkan pernah ada tandingannya adalah Muhammad Saw, seorang Rasulullah yang jangkauan misinya sangat panjang. Prediksinya tentang penaklukan-penaklukan negeri-negeri besar sangatlah akurat. Neeri-negeri Syam, Konstantinopel (Turki), dan kita nantikan Roma. Adalah sebuah bukti sejarah yang tak terbantahkan.

Senin, 14 Januari 2013

Islam adalah...



Islam adalah agama para rasul dan nabi seluruhnya, mulai dari Nabi Adam hingga  risalah Nabu Muhammad Saw yang menjadi pamungkas risalah-risalah Allah . kita bisa melihatnya dalam beberaa firman Allah Swt.

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwariskanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu, Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS Asy-Syuura: 13).

Islam maknanya adalah berserah diri kepada Allah dalam perintah, larangan, dan beritaNya melalui whyu. Maka siapa yang menyerahkan diri, hati, dan anggota tubuhnya kepada Allah dalam segala perkara berarti dia seorang muslim. “Katakanlah sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Allam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikia itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al-An’am: 162-163).