Rabu, 14 Januari 2015

Menemani Hati-Hati yang Lelah

Ada banyak hati yang sedang lelah. Sehingga menit-menit berlalu begitu saja. Hanya terdengar suara tetes-tetes air hujan di balik jendela, yang sesekali berjeda kata dari mulut-mulut yang lelah. Mereka seperti zombi. Hidup namun banyak kesuraman yang terpancar dari mata-mata yang mewakili hati. Aku mengerti dan aku hanya bisa menulis saat kondisi itu terjadi. Sembari berdoa, ada malaikat yang datang memecah kesuraman. Dan, jam sudah menunjukkan waktu Isya. Sepertinya doa terkabul, hati perlu kembali diistirahatkan. Menjemput panggilannya yang telah berlalu tiga sampai lima menit yang lalu.

Menemani hati-hati yang kelelahan,
Pojok Surau, 13 Januari 2015 | Pukul 19.00 WIB

Senin, 12 Januari 2015

Tanggung Jawab dan Cinta

Pernah mendengar dua istilah ini? Ambil pusing dan tidak ambil pusing. Sebenarnya dua istilah ini hanya dibedakan oleh dua kata. Yang dengan dua kata itu akan menjadikan keduanya menjadi beda makna. Entah siapa yang pertama kali menggunakan dua istilah ini. Tapi akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan dua istilah ini.
Ada yang harus aku jelaskan dari dua istilah yang telah tega membuatku sibuk. Secara subjektif, kedua istilah ini akan aku jelaskan dengan sudut pandang positif dan negatif saja. Dalam arti keduanya akan aku kaitkan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang.
Pertama yang akan aku jelaskan adalah tidak ambil pusing. Seperti pada penjelasan sebelumnya, hal ini berkaitan dengan karakter, tanggung jawab, dan cinta seseorang. Ada orang-orang di sekeliling kita yang memiliki tipe ini. Tidak mau ambil pusing. Orang pada tipe ini memiliki kecendrungan menyepelekan. Ini berbeda dengan berfikir sederhana. Orang yang berfikir sederhana adalah orang yang memiliki pemikiran efisien dan memiliki kecendrungan solutif. Tapi orang yang memiliki kecendrungan menyepelekan, dia lebih cendrung menganggap semua enteng, tidak solutif, dan terlalu menggantungkan semuanya pada orang lain. Benar kita adalah makhluk yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bukan berarti semua kita gantungkan kepada orang lain. Menganggap setiap orang akan dapat memaklumi semua sikap kita yang cedrung menyepelekan itu. Orang semacam ini sangat jelas tidak memiliki rasa tanggung jawab. Dan rasa cinta kepada tanggung jawabnya harus dipertanyakan. Bagaimana mungkin seorang yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta, sangat abai dan menyepelekan.
Istilah yang kedua adalah ambil pusing. Istilah ini berkebalikan dengan istilah pertama yang telah aku jelaskan. Orang yang ada pada tipe ini memang bukan hanya memiliki cara berfikir sederhana. Dia memiliki rasa tanggung jawab dan juga cinta. Saat seseorang pada tipe ini diberikan sebuah tanggung jawab, dia akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Tidak terpengaruh dengan kondisi sekelilingnya yang entah membantunya atau justru membiarkannya bekerja sendiri. Ada beberapa orang di sekeliling kita yang saat menerima bantuan justru membuatnya menjadi malas. Meski ada juga yang justru semakin bersemangat saat melihat ada banyak kepedulian. Begitu juga ada yang saat dia bekerja sendiri dan tak ada satupun yang peduli terhadapnya, dia akan menjadi bersemangat. Dia ingin menunjukkan bahwa dia tetap mampu bekerja walau hanya sendiri. Tapi ini adalah emosi yang entah berlandas cinta atau amarah. Dan saat itu ada orang yang saat dia sendiri malah menjadi tak bersemangat. Merasa kesepian hingga akhirnya dia mati. Posisi inilah yang disebut posisi netral.
Kondisi ini akan sangat dipengaruhi oleh hati yang memiliki rasa tanggung jawab dan cinta. Keduanya adalah sumber energi bagi kaki dan tangannya untuk begerak. Tidak mudah mengabaikan seberapa kecil monster yang ada di hadapannya. Tapi juga tidak terlalu merasa ketakutan saat menghadapi monster besar yang sedang dihadapinya. Cinta yang memiliki sumber yang benar akan menghasilkan energi yang besar. Sumber yang benar itu adalah Tuhan yang manciptakan rasa cinta itu. Mungkin cukup hati kita yang mengalah, merasakan rasa sakit. Sehingga tidak akan banyak hati yang dikecewakan dan disakiti. Lagipula beban di pundak sudah diukur oleh Tuhan pemilik seluruh rasa cinta.

Jumat, 09 Januari 2015

Menunggu Jawaban

Menunggu jawaban itu seperti mengharap-harap munculnya pelangi setelah hujan. Tak ada kepastian.Pun hujan yang datang hari ini tidak seperti biasanya. Dia cukup deras. Namun hujan yang deras itu datang tiba-tiba. Seperti mengerti tentang gersangnya bumi. Sehingga pelangi yang diharap-harap belum pasti kemunculannya. Mungkin pelangi sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban juga seperti menatap langit di kala malam mulai menyelimut. Mengharap bulan dan bintang menari-nari di langit. Beradu terang tak mau mengalah. Malam yang gelap menjadi cerah. Tapi itu juga belum pasti. Kadang awan gelap menutup begitu saja pentas tari. Seolah mengatakan pertunjukan telah usai. Atau malam ini pertunjukan tengah libur. Mungkin langit sedang sibuk merenungkan jawaban.
Menunggu jawaban memang membosankan. Apalagi harus menunggu tiga hari kedepan. Terbesit rasa ketidakpastian. Tapi ada harap begitu besar tertanam. Ada cinta yang harus diperjuangkan. Bagiku ini pengorbanan. Karena saat itu akan ada harapan yang patah. Entah itu harapanku atau harapan orang lain. Biarlah langit menentukan jawabannya.

Rabu, 07 Januari 2015

Masa Lalu

Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Masa lalu seperti halnya sejarah. Dia pasti akan berulang dan akan kembali menampakkan wajahnya dalam kisah, sosok, dan setting yang berbeda. Namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Karena memang itulah salah satu mengapa sejarah itu ada, sebagai wahana pembelajaran. Kita tidak bisa meninggalkan begitu saja masa lalu. Tapi seperti kita sedang mengendarai sebuah kendaraan. Kita tak harus terus menerus melihat kaca sepion untuk melaju ke depan. Nanti kita malah nabrak lalu terjatuh. Kita cukup fokus melaju ke depan. Saat akan merubah arah, barulah kita melihat kaca sepion. Bila perlu kita bisa melihat ke belakang.
Masa lalu adalah sejarah yang di dalamnya akan ada sosok. Sosok yang sama akan muncul di waktu yang akan datang. Meski dengan kapasitas yang tentu tak bisa kita bandingkan. Ada hal yang harus kita ingat tentang hal ini. Bahwa setiap masa memiliki sosoknya. Dan setiap sosok memiliki caranya dalam menuliskan kisahnya. Kapasitaslah yang kemudian akan menentukan seberapa hebat sejarah akan terukir. Kita tak bisa membandingkan sehingga kita hanya akan menyakiti hati. Hati para sosok pengukir sejarah.
Kita hanya perlu belajar dari masa lalu saat menemui kegaduhan. Melihat kaca sepion saat akan merubah arah kendaraan. Bukankah keberadaan sejarah harusnya menjadikan manusia semakin bijak? Tidak bersikap seperti anak kecil. Menghayal, mengharapkan masa lalu akan kembali terjadi. Meski sejarah pasti akan berulang dan akan kembali menampakkan wajahnya. Tapi ingatlah sejarah akan tampil dalam kisah, sosok, dan setting yang berbeda. Kita hanya perlu bijak dengan masa lalu.

Selasa, 06 Januari 2015

Memiliki Harapan


Memiliki harapan itu seperti kita sedang menunggu-nunggu tumbuhnya tunas pohon. Saat itu bisa saja tunas itu mati, patah dimakan oleh ayam yang kelaparan. Kita hanya perlu pandai-pandai menjaganya. Agar tunas itu tumbuh dan menghasilkan dahan-dahan yang baru. Dari dahan-dahan itu akan tumbuh buah-buahan yang manis. Kita dapat memakan buah itu sepuasnya. Kita juga dapat membaginya dengan orang lain. Membagi kebahagiaan.
Memiliki harapan juga harus memahami, bahwa tak semua harapan itu akan terpenuhi. Kita harus siap saat harapan itu patah. Apa kita siap jika semua harapan itu terpenuhi? Dan apakah kita siap melihat banyak harapan orang lain yang patah karena kita?
Pikirkan baik-baik tentang hal ini. Saat harapan kita terpenuhi, di saat yang sama akan ada harapan orang lain yang patah. Kita hanya perlu bijaksana dalam melihat setiap harapan kita. Karena kita tidak hidup sendiri. Ada kehidupan lain yang juga memiliki harapan.